Bandung – UI Depok – Bandung

Ceritanya panjang.

Seminggu sebelum berangkat

Hari Sabtu yang lalu, tanggal 22 November 2008, aku dan temanku mengikuti Ujian Kualifikasi Penerjemah yang diselenggarakan oleh UI di UI Depok. Well, karena kami berdua sama-sama buta Depok, seminggu sebelum pergi ke Depok kami pun sibuk mencari segala macam hal yang penting. Mulai dari mencari berbagai rute dan alternatif transportasi menuju dan dari UI Depok sampai mencari penginapan. Belajar? Lupa, deh :p

Awalnya sempat terpikir untuk pergi dan pulang hari itu juga. Berangkat pagi-pagi dari Bandung lalu pulang setelah selesai ujian. Toh ada travel dari Bandung ke Depok (thanx to temanku, Beta, yang sudah sibuk mencarikan dan mendapatkan infonya). Pilihan kami jatuh ke Aya Travel karena cukup murah (Rp60.000,- dari pool di Jl. Taman Sari, tepatnya depan BLCI, ke pool di Jl. Margonda Raya Depok. Kalau naik travel, kami tak perlu pusing-pusing memikirkan jalan dari Jakarta ke Depok. Tinggal ke pool di Bandung, duduk di mobil, sampai di pool Depok, turun dari mobil, cari angkot ke UI. Kalau mau diantar sampai UI juga bisa, tapi musti bayar lebih. Dengan travel ini sebenarnya hidup kami lebih mudah. Kami tidak perlu menginap karena kami bisa berangkat jam 5 pagi. Perkiraan sampai Depok jam 7.30 atau 8.00 pagi. Ujian jam 9.00. Sempatlah.

Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, akhirnya kami memutuskan untuk menginap saja. Risikonya terlalu besar. Kalau di jalan ternyata kenapa-kenapa, gimana? Bisa terlambat ujian, tuh. Rugi biaya ujian (yang lumayan mahal untuk aku yang orang Bandung) dan rugi waktu (karena ujiannya hanya diadakan sekali dalam setahun).

Pertama : Cari Penginapan

Akhirnya kami memikirkan alternatif lain. Menginap. Ada beberapa alternatif. Menginap di hotel Bumi Wiyata (paling mahal), wisma Makara UI, Guest House di Pusat Studi Jepang-UI, atau di asrama UI (letaknya di samping wisma Makara-UI). Sayangnya hanya itu saja alternatif menginap yang dapat kami temukan. Well, tentunya kami ingin nginap di asrama UI karena sepertinya paling murah (sekitar 15 ribu?) walaupun letaknya terlihat cukup jauh dari lokasi ujian. Tak apalah. Yang penting murah. Sayang ternyata asrama itu sudah penuh. Akhirnya dari tiga alternatif yang tersisa, Bumi Wiyata, wisma Makara, dan Pusat Studi Jepang (PSJ), akhirnya kami memutuskan untuk menginap di PSJ saja karena biayanya paling murah. Ternyata selain biayanya paling murah, lokasinya juga dekat banget dengan lokasi ujian di perpustakaan pusat UI. Hanya terpaut dua blok saja. Walaupun begitu, satu blok di UI-Depok tuh besar-besar.

Lokasi PSJ, Wisma Makara, dan Asrama UI juga bisa dilihat di sini.

Kedua : Cari Cara Pergi

Oke. Bagaimana cara kami pergi. Apakah mau naik Aya Travel atau naik KA? Kalau pergi pakai travel dan pulang juga pakai travel…enak, sih. Gak usah pusing-pusing lagi, kan? Tapi nggak ada petualangannya. Nah, lho! Kapan pinternya, nih? Akhirnya, dengan semangat petualang dan itung-itung latihan menjadi backpacker, akhirnya kami memutuskan pergi naik KA Parahyangan ke Jakarta. Dari Gambir ke Depok-nya gimana cara? Well, berdasarkan pencarian di google, ada banyak alternatif untuk ke Depok. Bisa naik KRL, bisa naik angkot, atau naik PATAS. Berhubung kami kami berdua belum pernah naik KRL, akhirnya kami memutuskan untuk naik KRL saja. Lagi pula, kami berangkat hari Jumat jadi banyak waktu untuk bertualang. Toh, nggak dikejar-kejar waktu begitu. Santai.

Ketiga : Cari Cara Pulang

Masalah berikut adalah transportasi pulang. Pulang agak masalah karena aku nggak mau sampai Bandung pada malam hari. So, setelah melihat jadwal KA Gambir-Bandung di koran (bisa juga dilihat di sini), sepertinya kami tidak mungkin pulang naik KA. Ujian berlangsung dari jam 09.00 sampai jam 12.00. Kalau mau ngejar Parahyangan jam 13.30, berarti kami harus naik KRL jam 12-an. Kalau naik KRL ekonomi jam 12.16 (sampai stasiun Juanda jam 13.00) sepertinya tak terkejar karena kai belum tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari tempat ujian dan lari ke stasiun UI. Selain itu, bisa saja KRL-nya terlambat sampai Juanda. Kalau naik KRL ekonomi AC, adanya jam 12.29 tapi sampai di stasiun Juandanya jam 13.17. Padahal kami harus balik ke Gambir dulu karena KRL nggak berhenti di Gambir. Hanya dilewati saja. Kalau ngejar Pakuan Express, wah sepertinya sama tak mungkinnya. Pakuan Express jam segitu nggak singgah di stasiun UI. Jadwal KRL lengkapnya bisa dilihat di website ini.

Coret Parahyangan 13.30. Alternatif lain adalah Parahyangan 16.30. Tapi terlalu sore, dan aku nggak mau nunggu terlalu lama. Akhirnya alternatif KA yang tersisa adalah Argo Gede jam 14.30. Tapi tiket Argo Gede kan mahal. Rp50.000,-! Yah, kalau dijumlah-jumlah, tiket Argo Gede plus tiket KRL plus tiket bus Trans Jakarta, ternyata jumlahnya hampir sama dengan biaya tiket travel (Rp60.000,-). Yah, kalau biayanya sama saja, ngapain pilih yang repot? Akhirnya kami putuskan untuk pulang dengan Aya Travel. Info travel bisa dilihat dari sini.

Akhirnya rencana rute perjalanan pergi kami adalah : Stasiun KA Bandung—Stasiun KA Gambir—stasiun Trans Jakarta Gambir—Stasiun KRL Juanda—Stasiun KRL UI-Depok.

Jumat, 21 November 2008

Bandung – Gambir – Juanda

Hari Jumat kami berangkat dari Stasiun KA Bandung, naik Parahyangan jam 06.35. Sampai di Gambir jam 10.15. Tumben Parahyangan cepat. Minggu sebelumnya kami baru sampai Gambir jam 10.45. Keluar dari Gambir, kami langsung cari satpam buat nanya kalau mau ke stasiun Juanda pakai bus Trans Jakarta ngambilnya dari Gambir 1 atau Gambir 2 (di Gambir ada 2 stasiun bus Trans Jakarta, sih). Setelah itu, kami naik bus Trans Jakarta. Terbawa ke Cigondewah karena nggak bisa turun di Stasiun Juanda (terhalang orang dan kami kurang sigap). Turun di Cigondewah, balik lagi, deh ke Juanda. Untung kami memang tak buru-buru. Hehehe. Memang kalau naik bus Trans Jakarta ini harus kuat mental dan sigap. Begitu ada aba-aba, “siap-siap yang Juanda”, harus langsung berdiri dekat pintu dan ‘menyikut’ orang-orang yang menghalangi jalan. Kalau busnya sedang agak sepi sih nggak terlalu masalah, tapi tetep harus cepat-cepat turun.

Turun di Juanda itu, kami bertanya lagi pada petugas Trans Jakarta yang jaga di sana. Kami nggak tau Juanda letaknya di sebelah mana. Daripada nyasar, mending nanya. Sampai di stasiun KRL Juanda, kami membeli tiket KRL ekonomi AC yang gerbongnya bekas Jepang punya. Ciee. Pengen ngerasain kereta api Jepang, nih. Masuk stasiun KRL dengan agak tergopoh-gopoh karena sudah hampir waktunya.

Juanda-UI

Setelah menunggu beberapa saat, ada pengumuman yang tak terdengar dengan jelas. “Kayanya itu kereta kita, ya?” Lalu muncullah kereta cantik dengan huruf kanji dan seperti kereta Jepang (yang pernah baca manga, nonton anime, atau nonton dorama, pasti kebayanglah). Di depan kereta ini ada tulisan ‘Ekonomi AC’. “Kayanya kereta kita, deh!” Tapi kami berdua ragu karena keretanya lebih cepat 10 menit dari jadwal (menurut jam di stasiun), lagi pula kami sama-sama nggak punya bayangan wujud KRL ekonomi AC dan KRL ekonomi biasa, tuh seperti apa. Kirain bentuknya sama. Kami takut kalau kereta itu ternyata kereta ekspres. Wah! Bisa terbawa sampai mana, tuh! Akhirnya kami tak jadi naik kereta itu.

Setelah KRL itu pergi lagi, barulah kami sadar bahwa itu KRL yang seharusnya kami naiki. Itu juga setelah bertanya pada calon penumpang yang menunggu KRL ekonomi. Yah! Memang di stasiun KRL ini nggak ada petugas yang bisa ditanya-tanya dan KRL-nya pun hanya berhenti sebentar. Jadi memang tak boleh bingung di stasiun KRL ini. Selain itu, pengumuman yang biasa berkumandang di stasiun itu juga tak terdengar dengan jelas. Ditambah pula jam yang ada di stasiun KRL ternyata nggak ontime (atau jam-nya ontime tapi KRL-nya yang nggak ontime, ya? Bukan ngaret, tapi kecepetan gitu.)

Akhirnya, atas anjuran si Mas yang kami tanya itu, kami naik KRL ekonomi. Tak terlalu lama juga nunggunya. Jadwalnya emang deket-deket gitu, sih. Sayang juga, ya? Sudah beli tiket KRL ekonomi AC tapi malah naik KRL ekonomi biasa. Tak apalah. Pengalaman. Kapan lagi ketinggalan kereta? Kapan lagi naik kereta dengan tiket yang salah? Hahahah 😀 Untungnya KRL ekonomi jam segitu tak penuh dengan penumpang. Agak sepi gitu. Jadi kami nggak merasa gerah dan panas. Lagi pula pintunya juga terbuka lebar (well, namanya juga KRL ekonomi, ya?) sehingga angin bisa masuk dengan leluasa. Banyak hiburan pula. Mulai dari yang jual makanan, jual aksesoris-aksesoris gitu, jual lem, jual…wuih..pa lagi, ya?, plus yang ngamen pake gitar dan drum sampe yang ngamen dangdut dan bawa-bawa speaker.

KRL berhenti di stasiun-stasiun yang ada di sepanjang lintasan KRL (kecuali Gambir yang dilewati begitu saja. Bye, Gambir!). Nah, karena banyak sekali stasiun yang dilintasinya, kalau kita nggak hapal atau nggak merhatiin udah sampai stasiun mana, bisa kebablasan. Nggak ada yang pengumuman, soalnya. Untung aku sudah mendonlot gambar stasiun lintasan KRL (bisa dicari pakai google), jadi kami bisa memastikan kami sudah sampai di stasiun mana. Mencari papan nama stasiun? Itu juga dilakukan…tapi ada satu atau dua stasiun yang papan namanya tak berhasil kutemukan. Mungkin dipasang di sebelah antah berantah yang tak terlihat dari tempatku duduk.

UI-Depok, Guest House di Pusat Studi Jepang (PSJ)-UI

Setelah akhirnya sampai di stasiun UI, kami turun dan berjalan ke UI. Seperti biasa, cari satpam dan bertanya. UI besar banget, soalnya. Daripada tersesat.

Sampai UI ternyata masih belum jam 12 siang. Jadwal check-out di penginapan PSJ yang sudah kami booking sebelumnya adalah jam 12.00. Jadi, karena takut disuruh bayar dua hari (kurang pengalaman, nih) akhirnya kami cari kantin dulu. Selesai makan siang barulah kami berangkat menuju Pusat Studi Jepang(PSJ)-UI. Sampai di PSJ-UI, ternyata, oh, ternyata….ada bursa buku elex murah 🙂 tergoda…tergoda…tapi check-in dulu. Bertanyalah kami pada satpam di meja resepsionis, “di sebelah manakah guest house-nya?” Lho, jalan kami terhalang oleh…orang yang lagi shooting film? Film apa, nih? Sinetronkah?

Anyway. Pergilah kami ke guest house PSJ melalui jalan samping (karena terhalang orang yang lagi shooting). Check-in. Masuk kamar. Kamar kami di lantai tiga. Lumayan juga naik tangganya.

Nah. Bagaimana bayanganmu akan kamar untuk berdua seharga Rp210.000,-? Waktu nelpon buat cari info dan booking, kami sudah diberitahu bahwa kamar kami ini pakai AC (“semua kamar juga pakai AC, Mbak”) dan kamar mandinya di dalam, plus pemandangan ke arah danau. Nah, aku membayangkan seperti hotel. You know. Begitu buka pintu aku pikir aku akan melihat lemari di sebelah kiri, kamar mandi di sebelah kanan (atau vice versa), dan ke sananya tempat tidur, plus dengan (atau tanpa) balkon.

Ternyata! Sesuai namanya ‘Pusat Studi Jepang’! Kamarnya pun seperti ‘mansion’ di Jepang. ‘Mansion’, ya… bukan ‘apaato’ (bahasa Jepang untuk apartemen). Dulu senseiku pernah menjelaskan mengenai beda ‘mansion’ dan ‘apaato‘. Katanya yang disebut ‘apaato’ di Jepang itu, bentuknya seperti kamar kos-kosan di sini. Kecil. Tapi ada dapurnya (kalau tak salah). Nah, yang disebut ‘mansion’ tuh katanya sama dengan apartemen di sini. Aneh, ya? Kalau di Indonesia, kan yang disebut apartemen itu kayanya udah mewah banget.

So, begitu aku buka pintu, ternyata di sebelah kiri pintu masuk ada dapur kecil (lihat gambar yang dibuat tanpa memperhatikan proprosi). Di atas meja dapur ada bak cuci piring dan juga water dispenser. Di ujungnya ada lemari es. Lurus ke depan dari pintu masuk, adalah living room. Aku sebut living room karena ada sofa panjang di sebelah kanan sedangkan di sebelah kiri ada meja makan beserta kursi makan). Living room dan dapur ini dipisah oleh sebuah lemari makan yang memiliki pintu depan-belakang (bayangin rak buku di perpustakaan, tapi pakai pintu kaca di kedua sisinya). Setelah living room, ada balkon dengan pintu geser dari kaca. Belok ke kiri dari living room ada pintu lagi menuju kamar tidur. Di kamar itu ada dua tempat tidur ukuran 3 (personal, tapi agak lebar) yang dipisahkan oleh satu meja tidur kecil, ada lemari dan meja (di atasnya ada TV). Ada balkon pula seperti di ruang tamu (berpintu geser dari kaca). Di sebelah kiri (dari arah pintu masuk kamar), ada pintu lagi menuju kamar mandi ber-bathtub-nya, wc duduk, wastafel, dan tempat seperti meja di sepanjang dinding kamar mandi untuk meletakkan barang-barang. Sayang sumbatan bathtub-nya entah ke mana. Kan enak, tuh, berendam. Oh, ya. Banyak lemari, tapi nggak aku sebutin satu-persatu, ya. Banyak, soalnya 😛

Well, setelah mandi dan melepas lelah sejenak, kami pun turun lagi untuk jalan-jalan melihat lokasi ujian, mem-booking tempat di Aya Travel. Kami juga mampir ke diskonan elex yang kami lihat sebelumnya dan akhirnya aku memborong buku. Lumayan banget, sih. Komik dijual 3000 perak. Mulanya nggak mau beli banyak tapi ternyata 7 Seeds-nya komplit dari 1 sampai 8. Yah, diborong saja. Memang tak sampai 10, sih. Tapi tak apalah. Lumayan banget dapet 1-8 🙂 Selain itu kami juga cari makan malam dan sarapan. Penginapan ini memang tidak menyediakan sarapan padahal aku harus makan nasi karena sakit maag-ku yang kronis ini. Jalan-jalan sana-sini sambil foto-foto pake kamera hapeku. Sayang kamera Beta sedang di Semarang…eh? apa di Jogja, ya?

Setelah malam kami pun tidur.

Sabtu, 22 November 2008

Pagi, Ujian

Setelah sarapan dan membereskan barang-barang, kami check-out dari penginapan. Tas kami titipkan di meja si Mas penjaga penginapan itu. Berat kalau dibawa-bawa ke tempat ujian. Isinya kan sudah bertambah 5 kilo gara-gara beli komik! Setelah itu kami pergi ke tempat ujian. Di sana kami ujian dengan menggunakan komputer. Alhamdulillah banget. Males banget, kan kalau harus nulis? Mana tulisanku jelek pula. Lebih cepat ngetik.

Aku dan Beta ikut ujian yang umum, jadi kami hanya menerjemahkan teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Ada tiga soal, tapi yang dikerjakan hanya satu saja. Diperbolehkan memilih sesuka hati. Senangnya. Tapi, ntar dulu. Soalnya berbahasa berita! Wah! Yang satu tentang harga saham, langsung aku singkirkan karena sama sekali nggak ngerti peristilahannya. Satu lagi tentang…euh…aku lupa…ekonomi, gitu? Pokoknya dua soal ini langsung aku singkirkan. Aku mengerjakan berita yang ada hubungannya dengan biologi dan ekologi. Sayang aku nggak ngerti-ngerti amat dengan istilah ekologi, tapi untungnya nggak terlalu banyak.

Setelah ujian, kami makan siang di salah satu kantin UI. Setelah itu kami kembali ke penginapan untuk mengambil tas. Dari sana kami berjalan ke arah luar dan naik ojek ke Aya Travel.

Tersesat!!

Aya Travel ini tidak memberikan alamatnya secara lengkap. Dia hanya bilang, “di samping BNI Jl. Margonda.” Begitu saja. Kami pikir mencarinya mudah dan tukang ojek pastilah tahu di mana letaknya. Eh, ternyata mereka hanya sok tahu saja. Memang kami diantarkan sampai BNI tapi ternyata di samping BNI ini nggak ada Aya Travel. Bingunglah kami berdua. Setelah panik dan menyuruh Beta menelepon Aya Travel Akhirnya diketahui Aya Travel ada di Jl. Margonda raya nomor 48 (atau 40 berapa gitu?). BNI tempat kami ditinggalkan oleh ojek ini ternyata di Jl. Margonda Raya nomor 300-an. Gila! Jauh banget! Setelah bertanya pada polisi yang jaga di perempatan jalan di dekat situ, kami naik angkot menuju Aya Travel yang letaknya tak jelas ini. Masih bingung. Eh, tau-tau di sekitar nomor 190-an ada lagi BNI. Duh! Pusing, deh! Sepanjang jalan itu Beta kusuruh nelpon, “tanya alamat lengkapnya! Nomer berapa? Ada tanda-tanda apa aja selain BNI? Sekarang di sana jam berapa? Dst…” Sorry, ya Beta. Aku panik. Hehehe. Lain nelpon sendiri?!). Akhirnya, dengan panduan lokasi dari Mbak yang jaga di Aya Travel, kami sampai juga di sana. Pas banget waktunya. Untunglah. Tapi lumayan juga keringetan. Campuran antara panik dan kepanasan. Jadi, di Jl. Margonda Raya ini aku menemukan 3 buah bangunan BNI. Aya Travel ini di samping BNI yang paling besar dekat POLRES.

Depok-Bandung

Tak banyak cerita. Toh kami hanya duduk saja di travel. Sempat foto-foto sebentar. Beta juga sempat tidur waktu di tol. Ngobrol-ngobrol juga sambil SMS teman, Teh Maria, di Bandung cerita kalau barusan kami disesatkan oleh tukang ojek dan lari-lari menuju travel. Sempat nanya tentang satu kata yang kami sama-sama penasaran apa bahasa Indonesianya.

Akhirnya sampai Bandung juga. Aku minta ayah menjemput. Tasku beraaat banget. Tak sanggup rasanya kalau naik angkot. Beta dengan baik hatinya menemani aku menunggu ayahku datang. Padahal rumahnya jauh. Thanx banget, Beta! 🙂

Iklan

53 thoughts on “Bandung – UI Depok – Bandung

  1. hahaha…petualangan kita 😀
    penginapannya emang bikin kaget 😛
    KRL ekonomi seru banget, rame, tiap nambah stasiun yang dilewati, nambah juga pedagangnya hehehe…
    jadi inget katamu tentang ibu2 yang pada bawa koper dan awalnya kita kira mereka juga nginep, sama kaya kita. mungkin aja isi koper bukan perlengkapan nginep tapi KAMUS!! dan mereka sama sekali gak nginep. kita cuma bawa kamus ala kadarnya 😛
    semoga kita lulus ya….

  2. Wah wah wah, luar biasa…..
    Informasi & artikel di website ini benar-benar berguna sekali buat kita semua. Ayo update terus biar lebih keren lagi sehingga kita jadi nggak bosen berkunjung di sini. O ya, bagi warga Cibinong, Depok, dan Bogor yang belum berlangganan koran, pasukan loper Cibinong Agency (http://cibinong-agency.blogspot.com) siap melayani kebutuhan informasi Anda….

  3. alur ceritanya menarik banget, saya aja yang orang jakarta belum pernah naik krl depok,hehehe.
    nyari di google eh terdampar disini. makasih infonya.

  4. hai,..mau nanya donk,..PSJ itu ada tenpat nginapnya ya,..
    boleh tau no tlfnya g’…
    parah nih,.. ku mau ujian tanggal 5 ni tapi penginapan nya pada penuh,.
    ntahlah kalau bumi wiyata,..
    bantuin donk,..

    • Yang aku tau cuma PSJ UI. Harga lebih murah dikit dibanding wisma makara dan bumi wiyata. Tempatnya di dalem UI. Jadi kalo acaranya di UI, sih enak banget. Telepon aja dulu. Nomornya ada di atas.

  5. wah….makasih ya ^ ^, pagi2 udah di reply.
    hari ini mw di telp. lagi….

    blog-ny keren, musti banyak belajar nh

    • Sama-sama. Iya. Di-reply karena kepagian nyampe kantor :))

      Blog-ku keren? Aduh. Makasi 🙂 *tersipu-sipu bahagia*

  6. T.T udah pnuh yg d PSJ, tp kabar baikny udah dapet tempat yg gk trlalu jauh dari UI
    makasih infony.
    yep..keren, blog-ku blm sebanding… 😦

    • Syukurlah kalo udah dapet tempat nginep 🙂

      Wah…PSJ laku juga ternyata, ya? Waktu aku ke sana sih sepi banget 😛

      Heuheu…makasi pujiannya. *tetep masih tersipu-sipu senang*

  7. Ping balik: UKP 2008? Lulus!! « Aini’s Blog

    • Wah! Iya, ya?
      Hadow! Kerjaanku berjibun sampe membengkalaikan blog sendiri :(( heuheu…
      ntar, deh…tak di-update…
      Paling ngiklan buku tapi. Hihihi… Tak apalah. Setidaknya ada referensi bacaan buat menemani puasa 🙂

    • Halo…halo…pa kabar juga?
      Aku sehat 🙂

      Sekarang lagi di kantor, di Mizan Publishing House 😛
      Di Bandung.

      Buku hasil editan sebagai editor Mizan. Hmm… dan belum sempet aja kopas dari notes di FB :((

  8. alhamd. fine juga disini.

    owh di mizan Bandung ( padahal baru tau 🙂 ) wah..semangat2 ya..smuany bakalan di upload di FB juga ??

    • Kenapa, ya? Padahal sudah di-setting for everyone. Hmm…

      Tapi isinya sudah kupindahkan ke blog ini. Bisa dilihat di bagian depan.

  9. bentar lagi….ramadhan….

    maafin klo ada salah2 kata waktu posting disini…

    selamat menunaikan ibadah puasa yg bentar lagi akan tiba. 🙂

  10. こんいちは ! 🙂
    long time gk kasi masukan nh…puasa udah hari ke-12 nih 🙂
    oia…baru ketemu hari minggu kmrin the girls wid the dragon tattoo wktu di Gramed di PIM.
    mau nanya nh pernah tau / denger / baca novel taichi yamada dgn judul tooku no koe wo sagashite ? klo pun ada, translate msh b’inggris kah ?novel sejenis itu didapet dimana ?
    mohon bantuannya

    terima kasih

    • Konnichiwa 🙂

      Iya, nih. Udah masuk hari ke-12, ya? Gak kerasa juga 😛

      Novel taichi yamada dengan judul tooku no koe wo sagashite… baru denger, tuh. Kalau diterjemahkan jadi : find the distant sound, ya?

      Mmm…. novel jenis gini dapetnya di mana, ya? Hmm… Toko buku impor paling jualnya yang bahasa inggris, ya? Hmm…

      Eh, di temenku bisa pesen, tuh. Tapi novel aslinya (jadi bahasa Jepang), jadi bukan terjemahan. Gimana? Mau? Kalau mau, bisa ngobrol via YM. YM-nya : aditya_rai2001. Ntar nego aja 🙂

      Semoga membantu.

  11. sudah lengkapkah puasa Anda ? 🙂

    andai udah mahir bhs jepang, lgsung beli deh…h..h..h 😀

    mestinya minta tlg diterjemahin ma B’aini skalian, kan dl prnah ambil kursus tuch ^ ^, ntr trjemahannya baru saya pesen satu 🙂

    tau salah satu toko yg jual buku impor gk ??
    terima kasih

    • Xixixi… bahasa Jepangku juga kacau. Itu tadi minta terjemahin ma temenku 😛

      Toko yang jual buku impor? Di bandung? Gramedia kan ada tempat buku impor, trus ada Times di BIP (tapi aku belum pernah ke sana).

  12. update info….barusan gempa brdasarkan info kira 7,3 SR di daerah tasik…
    berasa disini juga euy di cikarang.
    btw makasi B’Aini inponya 😀
    kayakny klo perlu info2 kyk gini, musti banyak2 brtanya ke yg ahliny deh..

    • Iya… Gempanya gede. Kami sekantor aja sampai heboh keluar gedung (dan aku yang paling belakangan. Santai bangeet :P)

      Sama-sama 🙂

  13. minal aidin wal faidzin. maafkan lahir & bathin, masih di bulan syawal kan….
    maafin bila ada salah2 ketika kasi comment

Komentar ditutup.