Tentang Pusaka

Aku: Arrgh! Aku puyeeeng ๐Ÿ˜ฆ

Suamiku: Kenapa?

Aku: Ini. Aslinya Legacy. Kalau tetep Legacy jadi berasa aneh. Kalau Warisan lebih aneh lagi. Wasiat? Rasanya kok…gimana, ya?

Suamiku: Gak ngerti ๐Ÿ˜€

(Maaf…memang aku kalau ngomong gitu. Tau-tau langsung poinnya tanpa babibu. Sering bikin orang puyeng.)

Aku: Gini. Si Number Four ini punya kekuatan supranatural. Si pengarang nyebutnya Legacy. Aku bingung musti cari apa buat padanannya. Dibiarkan seperti aslinya…kok ya aneh. Diganti jadi Warisan…lha…kok ya kayak drama perebutan harta waris ๐Ÿ˜€ Emangnya sinetron? Eh…sinetron mah sekarang tes DNA, ya? Hahahaha. Kalau Wasiat…kok kayak surat wasiat?

Suamiku: Ooh. Jadi gimana?

Aku: Gak tau. Huaaa ๐Ÿ˜ฆ

Sekian hari berlalu.

Aku: Pusaka aja gimana?

Suamiku: Huh? (seperti biasa, istrinya babibu begitu saja)

Aku: Itu. Si Number Four. Legacy aku jadiin Pusaka aja ๐Ÿ™‚

Suamiku: Ooh.

Aku: Untung aku nonton Kamen Rider.

Suamiku: Apa hubungannya?

Aku: Dengan dunia lain. Itu Kamen Rider yang mana, ya? Hmmm… Ryuki gitu? Faiz gitu? (ngomong sendiri)

Suamiku: ????

Iklan

7 thoughts on “Tentang Pusaka

  1. Iya. Tapi pas diskusi ma editornya alias Mbak Esti, ternyata dia memang sudah menerjemahkan Legacy sebagai Pusaka. Hahaha. Kalah jam terbang ๐Ÿ˜€

    Oh, iya. Di balik layar The Girl 3 baru aja diposting ๐Ÿ˜€ (akhirnya mangkir dari jadwal menyunting hari ini)

  2. Hahaha…
    Kenapa ga tanya aku say,
    Begitu baca naskahnya aku langsung terbayang Pusaka lho.
    Ga haram kok diskusi sama editornya, asal seperti biasa ada traktiran pasca ttd honor hihihi

  3. Wah, keren Mbak Aini ๐Ÿ™‚ Aku sempat ngelirik isi dalam I Am Number Four waktu di toko buku, terjemahannya asyik. Sayangnya belum sempat beli ๐Ÿ™‚ Target bulan depan ^-^

    • Ehehe. Makasi udah mampir, Mbak Selvi (bener manggilnya?).
      Ohooo…seneng ada yang muji terjemahanku. Makasi banyaaak *berbunga-bunga*

Komentar ditutup.