Converter

Aku bukan penerjemah yang suka menerjemahkan dari hardcopy. Pegel leher soalnya. Tengok naskah, balik ke laptop, tengok lagi naskah, balik ke laptop. Haduuuh.
Menerjemahkan dengan softcopy  berformat .pdf atau format lain yang bukan Word ya tetap saja kurang nyaman. Itu kan berarti si layar harus dibelah dua, bisa atas-bawah atau bisa juga kiri-kanan. Baca atas (atau kiri) ketik di bawah (atau kanan). “Eh … tadi sampai mana, ya?” Apalagi aku sering salah scroll. Maksud hati menggulir yang di bawah, eh … yang bergerak yang di atas. Nah, lho.

Makanya aku biasa merepotkan diri untuk mencari file yang bisa dibuka di Word. Supaya apa? Supaya enak nerjemahinnya. Paling tidak kan aku cukup membuka file yang mau diterjemahkan lalu menerjemahkan di bawah paragraf yang satu, baru lanjut ke paragraf lain. Novel A Garland for Girls itu kuterjemahkan dengan cara ini. Penerbit mengirimkan file soft copy-nya, kubuka di Word, dibagi-bagi dulu per bab. Baru mulai menerjemahkan. Paragraf satu kuterjemahkan di bawahnya. Setelah selesai, paragraf asli dihapus. Lalu lanjut ke paragraf dua, dan seterusnya.

Tapi … tapi … tapi kan naskah softcopy tidak selalu ramah Word. Syukur-syukur kalau penerbit memberi  format .doc atau .rtf atau .txt. Tapi kan tak selalu begitu. Kalau dapatnya .pdf atau .lit atau .pub. atau lainnya gimana?

Yah … setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan dua converter yang cukup untuk kebutuhanku.

1. Nitro PDF Professional.
Fungsinya untuk mengubah file .pdf menjadi file Word. Bisa juga dimanfaatkan untuk mengubah ke format lain (excel, misalnya). Menurutku, converter ini lebih rapi dibandingkan Adobe karena ada pilihan untuk membuang gambar, dan sebagainya.

2. Calibre – E-book management.
Program ini juga bisa digunakan untuk mengubah berbagai format e-book (.lit, .pdb, .epub, .lrf, dan masih banyak lagi) ke format lain, misalnya .rtf, .txt, dan lainnya. Sayangnya tidak bisa digunakan untuk .pdf.

Iklan

11 thoughts on “Converter

  1. Wow, artikel ini sangat membantu, Mbak. Aku juga sama dengan Mbak Aini, lebih suka menerjemahkan langsung di word. Tapi karena merapikan file pdf yang diconvert ke word itu repot sekali, akhirnya aku minta tolong orang lain (dengan bayaran, tentunya) ahaha. Nanti aku praktikkan tips ini. Thanks ya Mbak 🙂

    • Sama-sama.
      Pakai kedua program tadi sebenarnya tetap masih harus merapikan, sih … tapi kalau menurutku rapi-rapinya lebih cepat. Aku merapikan sendiri. Hihihi. Rajin, ya?

  2. wah, belum pernah nyoba nih… thx infonya, nui. selama ini aku pasrah aja dikasih pdf. bolak-balik liat file pdf di bawah dan word di atas. lumayan, olahraga mata #ngeles :p

  3. Idem. Aku juga lebih senang menggarap terjemahan dari soft copy. Kalau penerbit engga ngasih, aku bergerilya mencari soft-copynya. Kalau ga dapat juga, terpaksalah dipindai agar jadi pdf. Kadang-kadang kertasnya burem jadi ga bisa dijadikan file yang bisa diedit pakai OCR. Kalau sudah begitu apa boleh buat. Asal bisa tampil di layar pun tak mengapa, yang penting ga geleng-geleng terus heheh.

  4. Aku pernah pakai trik Nui yang buat A Garland for Girls itu karena diminta penerbit, tapi jadi repot ngitung total karakternya:))

    • Maksudnya paragraf asli dan paragraf terjemahannya berselang-seling begitu, ya? Iya, ya. Dijamin ribet ngitung karakternya 😦

      • Iya, kalau nyari softcopy-nya (bukan dari penerbit) takutnya belum versi final yang bisa diterjemahkan. Tahu-tahu ada perubahan atau kurang, huaaa… gawat deh:D

  5. Ping balik: Sedikit Gambaran tentang Wordfast Classic | Zona Aini

Komentar ditutup.