Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)

Saat menerjemahkan The Girl who Kicked The Hornets’ Nest, aku berpikir seharusnya ada cara yang jauuuh lebih mudah buat menerjemahkan. Mungkinkah ada suatu program yang dapat lebih memudahkanku mengerjakan pekerjaan hobi ini? Kenapa aku berpikir begitu? Karena saat menerjemahkan novel bagus satu itu, aku menghadapi masalah-masalah seperti:

  • Tidak sengaja melewatkan satu atau dua kalimat saat menerjemahkan. Kalimat 1, 2, 3, tiba-tiba loncat ke kalimat 5. Versi parahnya: terlewat satu paragraf. Pantesan aja nggak nyambuuung T__T
  • Menghadapi paragraf yang panjang luar biasa sampai-sampai ingin jambak-jambak rambut.
  • Bertemu kalimat panjang atau kalimat majemuk bertingkat-tingkat yang bikin ingin jedot-jedotin kepala ke meja karena ribet mesti cek ulang lagi, lagi, dan lagi demi memastikan maknanya diterjemahkan dengan benar.
  • Lupa padanan istilah yang digunakan saking banyaknya. Memang ini bisa diatasi dengan membuat daftar istilah di excel karena bisa diurutkan sesuai abjad dan untuk mencarinya tinggal search saja (kalau cuma dicatat di buku, tetap saja nyarinya makan waktu karena tidak bisa diurutkan sesuai abjad dan tidak bisa pakai search). Tapi excel yang memudahkan itu pun buatku masih kurang karena flow kerja terganggu. Lagi enak-enak menerjemahkan, ketemu istilah, bingung, pindah dulu ke excel, search, balik lagi, eh udah gitu lupa tadi sedang menerjemahkan kalimat yang mana.
  • Lupa padanan istilah sehingga harus nyari lagi dari awal. Setelah ketemu, baru sadar istilah itu pernah dipakai entah di berapa belas bab yang lalu. Ngabisin waktu! T__T
  • Rujit dengan penulisan nama! Nama yang pakai abjad é atau á atau yang tulisannya tidak biasa. Blomkvist, misalnya, atau nama jalan-jalan di Swedia itu. Widiw. Sekadar informasi: Waktu itu aku belum kenal dengan yang namanya autocorrect.

Lalu Tuhan yang mendengar keluh-kesahku menunjukkan jalan melalui temanku yang penerjemah juga, tapi dia menerjemahkan dokumen bukan novel. Masalah kami ya mirip-mirip beda dan beda-beda mirip. Dari temanku ini aku tau bahwa ternyata ada  yang namanya CAT-Tools.

Aku: Apa tuh?

Temanku: CAT-Tools atau Computer Aided Translation Tools alias alat bantu penerjemah.

A: Eee … gunanya?

T: Ya untuk membantu menerjemahkan. Ini bukan Machine Translation kayak Google Translate atau Transtool gitu.

Singkat cerita, setelah temanku ini menjelaskan cukup panjang padaku yang terbingung-bingung dan terbengong-bengong tapi tetap menyimak dengan saksama karena dia menjelaskan dengan semangat ’45, akhirnya aku memutuskan buat mencoba CAT-Tools karena temanku ini mengucapkan kalimat sakti: “Kalau pakai ini, nggak bakal ada yang namanya kalimat kelewat”

A: Kayaknya asyik juga. Tapi mahal, ya? Susah?

T: Ada yang gratisan. Eh, bukan gratisan sih sebenarnya, tapi versi trial. Kamu bisa coba pake buat ngerasain. TM-nya terbatas … tapi lumayanlah ada 500 TU. Namanya Wordfast. Pake yang Classic aja. Kalau buat belajar, lebih gampang pakai itu.

A: TM? TU?

T: … cukuplah untuk nerjemahin satu atau dua bab. Kalau sudah habis TU-nya bisa bikin TM baru.

Maka, meski terbingung-bingung dengan segala istilah yang disebutkan temanku itu, aku pun mencoba pakai Wordfast Classic gratisan. Ngambilnya langsung dari wordfast. Belajar cara instal dan settingnya di sini. Novel pertama yang diterjemahkan ya jelas si The Girl 3 itu.

Setelah satu tahun memakai Wordfast Classic gratisan yang membuatku merasa tidak leluasa, akhirnya aku memutuskan untuk beli lisensinya dengan bantuan Mbak Dina Begum yang juga menggunakan Wordfast.

Edited: Posting ini dulu merupakan posting yang panjang, karena itu kupotong jadi tiga bagian.

Baca juga:
Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)
Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1

Iklan

6 thoughts on “Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)

  1. betul, variasi diksi sangat perlu dalam terjemahan fiksi. Bahkan variasi katanya, ujarnya, tukas, bilang, semprot, lontar… itu sangat berpengaruh dalam memunculkan konteks. Jadi, pakai CAT Tools boleh-boleh aja asal jangan terlalu keenakan pakai satu istilah melulu 🙂

  2. seumur-umur aku belum pernah megang CAT tools, jadi pas ngeliat screenshot di atas rasanya, wow, gitu toh, sangat membantu ya… thanks infonya, nui.

Komentar ditutup.