Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)

Di posting sebelumnya, aku sudah cerita tentang mengapa aku mencoba memakai Wordfast Classic. Nah, sekarang … seperti apa sih rasanya? Gambarannya?

Sebelumnya, kalau teks berupa hardcopy, program ini jelas tidak berguna. Program ini baru bisa dipakai kalau kita punya softcopy naskah yang bisa dibuka dengan Word. Kalau pdf atau epub gimana? Di-convert dulu supaya bisa dibuka di Word.

Jadi, sudah punya softcopy yang bisa dibuka di Word? Oke. Anggap berikut ini naskah yang akan diterjemahkan.

020112_1352_SedikitGamb1.png

Saat program Wordfast yang sudah diinstal dijalankan, program tersebut akan memenggal per kalimat (sudah defaultnya begitu). Bisa juga diatur supaya program tersebut memenggal per paragraf, tapi itu tak akan dibahas di sini.
Saat dipenggal, akan muncul dua kotak. Kotak atas yang berwarna biru muda itu adalah kalimat sumber sedangkan kotak di bawahnya yang kosong dan berwarna abu-abu adalah tempat kita mengetik terjemahannya.

020112_1352_SedikitGamb2.jpg Pada gambar di atas, kalimat yang harus diterjemahkan adalah
My name is Marina, as of the sea, but I wasn’t called that until much later.”
Kita tinggal mengetikkan terjemahan kita di kotak bawahnya yang berwarna abu-abu.

Setelah kalimat tersebut diterjemahkan, tinggal tekan [Alt] + ↓, maka program akan memenggal kalimat berikutnya (In the beginning I was known merely as Seven, one of the …):

020112_1352_SedikitGamb3.jpg

Karena program ini memenggal kalimat satu per satu, tidak bakal ada kalimat yang terlewat diterjemahkan.

Ada lagi enaknya yang kurasakan. Tapi ini mungkin subjektif. Aku tuh mudah terintimidasi volume. Misalnya saat bertemu paragraf panjang seperti ular naga, wah … rasanya  pingin jambak-jambak rambut T__T.
Dengan menggunakan Wordfast, aku tak perlu melihat paragraf raksasa itu. Yang kulihat cuma satu kalimat yang mau diterjemahkan. Dengan memotong-motong per kalimat begitu, tau-tau aja satu paragraf panjang itu sudah terbantai tanpa perlu jambak-jambak rambut.

TM dan TU, apa itu?

Di gambar di bawah, terlihat ada tiga TU (Translation Unit) karena aku sudah menerjemahkan tiga kalimat itu dan semua TU tersebut disimpan dalam file TM (Translation Memory).

020112_1352_SedikitGamb4.jpg

Untuk Wordfast versi trial yang gratis, TM dibatasi hanya bisa diisi dengan 500 TU saja. Kalau menggalnya per kalimat seperti aku ya berarti TU-nya sekitar 500 kalimat. Cukuplah untuk mengerjakan 1 bab panjang atau beberapa bab pendek. Kalau TU-nya sudah 500, program bakal mandek. Tapi itu mudah diatasi dengan membuat file TM baru.

TM ini berguna saat kita menemukan kalimat yang sama persis. Kira-kira seperti punya teman dengan ingatan yang luar biasa bagus yang bakal langsung ngasi tau, “Kalimat itu kan sudah pernah kamu terjemahkan jadi ‘blablabla’.” atau “Kamu pernah tuh nerjemahin kalimat yang 80% mirip ini, waktu itu kamu nerjemahinnya ‘bliblibli’.” Kalimat terjemahan itu (‘blablabla’ dan ‘bliblibli’) akan langsung dimunculkan di kotak terjemahan sehingga kita tak perlu repot-repot mengetik lagi.

Catatan: Wordfast ini hanya alat bantu menerjemahkan. Kualitas terjemahan tetap ditentukan oleh penerjemah itu sendiri. Dalam penerjemahan novel, penerjemah perlu menggunakan diksi yang bervariasi, jangan sampai semua “she said” dan “he said” diterjemahkan jadi “katanya” tanpa berusaha membuat variasi dengan kata lain seperti “ujarnya”, atau “jawabnya”, atau “ia bertutur”, “ia menjelaskan”, “renungnya”, “bantahnya”, “ia berkelit”, atau lainnya yang tentunya tetap harus sesuai dengan konteks.

Baca juga:
Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)
Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1

Iklan