Editor, “… to edit is divine”

“… to edit is divine.”
–Stephen King

Setelah mengalami sendiri menjadi editor di sebuah penerbit, aku pun berpikir begitu. Tapi bukan dalam artian “editor selalu benar maka kata-katanya harus dituruti dan penerjemah yang tidak nurut itu laknat sehingga silakan angkat kaki dan cari penerbit lain”. Eh, bagian angkat kaki itu bisa juga, sih … hanya dalam kasus yang sangat luar biasa parah sekali.

Duluuu aku mengira pekerjaan editor hanya ngurusi naskah, memperbaiki ejaan, dan paling jauh mengubah kalimat. “Tidak banyak. Cuma gitu doang. Lagian kan penerjemah pasti sudah memberikan hasil terbaik jadi aku tinggal rapi-rapiin dikit aja.” Tapi aku salah! Yang kulakukan ternyata:

  • Berburu naskah, untuk buku terjemahan, mengajukannya ke atasan untuk minta reading copy.
  • Mengevaluasi naskah luar (reading copy) dan naskah lokal.
  • Mengorder terjemahan.
  • Menentukan apakah akan menggunakan cover asli atau tidak. Kalau tidak, itu berarti mengorder desain cover.
  • Menentukan ukuran buku, jenis kertas, margin, jenis huruf (font) serta ukurannya (untuk judul, body-text, nomor halaman,  dan running title, juga catatan kaki jika ada ), spasinya. Bahkan menentukan warna font dan hiasan margin untuk buku non-fiksi.
  • Memutuskan apakah buku perlu memakai endorsement dari tokoh lokal atau tidak, kalau iya, maka itu berarti mengontak orang. Kerjaan ini pun bisa mirip detektif. Cari di google, dapat alamat tanpa nomor telepon tanpa e-mail, nelepon penerangan, dikasi nomor telepon kantor itu, nelepon kantornya, dioper ke tempat lain, sampai akhirnya berhasil ngontak asistennya.
  • Ikut memberikan usulan soal promosi buku, kalau ada dan dirasa perlu.
  • Menyunting naskah (lihat bawah).
  • Memilih adegan untuk dibuat ilustrasinya jika memang ingin novel itu ingin diperindah dengan ilustrasi, dan otomatis mengorder ilustrasi.
  • Mengarang  sinopsis.
  • Membuat judul dan/atau subjudul.
  • Melayani pertanyaan proofreader.
  • Memastikan semua pekerjaan selesai tepat waktu agar buku bisa terbit sesuai jadwal.
  • Menghitung anggaran buku.
  • Membuat rencana penerbitan untuk tahun mendatang.
  • Dan mengurusi tetek-bengek lainnya (a.l. membaca email, menyeleksi penerjemah, menampung kritik dan saran pembaca).

Menyunting naskah itu sendiri:

  • Mengecek ketepatan makna. Jika makna pada teks terjemahan melenceng dari aslinya, maka aku memperbaikinya, bisa dengan menambah kata ‘tidak’ sampai harus menerjemahkan ulang.
  • Mengecek logika kalimat.
  • Memeriksa fakta.
  • Melancarkan dan meluweskan hasil terjemahan. Biasanya terjemahan terasa tidak ‘lancar’ karena terlalu mengikuti grammar asli dan bukan mengikuti struktur Bahasa Indonesia (saat jadi penerjemah, aku juga sering terjebak ini). Memenggal kalimat yang terlalu panjang dan sulit dipahami menjadi beberapa kalimat.
  • Mengecek kewajaran dalam Bahasa Indonesia, termasuk melakukan konversi satuan asing ke yang umum dipakai di Indonesia jika penerjemah tidak melakukannya (biasanya sih sudah).
  • Memeriksa aksen, apakah hasil dari penerjemah bisa dipakai atau perlu diperbaiki.
  • Menyensor atau menghaluskan adegan yang terlalu visual atau terlalu sadis.
  • Mengecek repetisi dan pleonasme. Biasanya ada kata yang dibabat, atau diganti dengan sinonimnya.
  • Menyesuaikan dengan selingkung penerbit.
  • Mengganti istilah jika ada padanan yang lebih tepat.
  • Menambahkan catatan kaki jika dianggap perlu.
  • Memperbaiki typo (nyerempet pekerjaan proofreader).
  • Merapikan teks. Apakah semua tanda kutip sudah melentik atau apakah masih ada yang tegak? Apakah semua istilah Anu sudah diawali dengan kapital? Apakah istilah Itu sudah diskursif? Apakah kata sandang ‘sang’ diawali dengan kapital atau huruf kecil, dan apakah sudah seragam? Dan sebagainya. Untungnya, aku “agak” gila kerapihan juga. Hehehe.

Saat ini aku sudah tidak bekerja di kantor, sehingga yang kukerjaan jika mendapat order “hanya” menyunting naskah. “Hanya” karena tetap saja banyak dan masih harus memperhatikan yang perintilan. Tapi terkadang pekerjaanku juga ditambah dengan memilih adegan untuk ilustrasi, mengarang beberapa usulan sinopsis, dan mengajukan beberapa usulan judul. Gimana permintaan saja.

Jadi, ya aku merasa “… to edit is divine” karena pekerjaan editor itu banyaaaak dan dituntut “sempurna”. Kalau bukunya jelek atau ada kekurangan sebiji zarah pun, yang kena caci atau kena tegur pasti si editor. Dan editor tak bisa berkilah “dari penerjemahnya gitu, kok” atau “itu kan penerjemah senior, tak mungkinlah saya yang hina ini mengeditnya”. Hahahaha. Sedihnya, kalau hasilnya bagus, yang dipuji justru si penerjemah padahal si editor sudah nangis-nangis darah dan banting-banting tulang saking terjemahan aslinya amburadul tapi tak bisa diorder ulang.

Iklan

32 thoughts on “Editor, “… to edit is divine”

  1. Jadi mesem-mesem… aku juga sependapat tentang pekerjaan ibu rumah tangga. Jadi kesimpulannya pekerjaan semua orang itu banyak, penting dan patut dihargai.

    • Aku baru menghargai pekerjaan editor setelah nyemplung langsung, Mbak 😀 Baru ngeh se-ngeh-ngeh-nya bahwa kerjaannya buanyaaak.

  2. *mikir dua kali lagi cita2 jd editor buku*
    thanks utk pencerahannya mba…membuat saya lbh menghargai para editor yg udh pernah memperhalus kerjaan saya. Mudah2an ke depannya bisa lbh mempermudah dan mengapresiasi pekerjaan mrk.

    • Bentar lagi jadi editor buku, nih. Mikirnya tinggal dua kali lagi 😀 *bercanda … bercanda* 😀

      Aamiin. Niatku juga sama dengan Mbak, semoga bisa mempermudah kerjaan mereka agar mereka tidak kelaparan mengedit terjemahanku. Pengalaman pribadi: mengedit itu bikin nafsu makanku tinggi 😀

  3. Sedihnya, kalau hasilnya bagus, yang dipuji justru si penerjemah padahal si editor sudah nangis-nangis darah dan banting-banting tulang saking terjemahan aslinya amburadul tapi tak bisa diorder ulang.-> Tapi memang hanya beberapa pihak yang tahu bahwa setelah itu penerjemah yang bikin nangis darah tersebut dihentikan ordernya, hehehe… *mengingat sesuatu yang belum lama terjadi*

  4. Wow, pas dijabarin aku baru sadar tugas editor ternyata seabreg-abreg ya… hihi *tapi sempet-sempetnya nge-fb dan blogwalking :p*

    • Kita kan dewaa. Hahahaha.
      Asalnya mau ditulis pakai paragraf, plus penjelasan satu per satu, plus contoh kasus.
      Ewew … banyak, bisa-bisa jadi satu buku *lebay*. Tak jadilah. Bikin daftar sahaja.

      • Menurutku sebutan ‘dewa’ itu dikarenakan kesabaran dan ketekunannya, Nui. Tapi aku belum pantas disebut dewa, masih suka misuh-misuh, hihihi… (siapa yang nanya ya?)

        • Sabar dan tekun ngurusin yang perintilan, ya. Hihihi. Aku juga masih misuh-misuh 😛 Jadi kalau disimpulkan masih siluman, dong. Perlu bertapa berapa ribu tahun lagi supaya jadi dewa 😀 *memangnya film silat?*

  5. waah, setuju banget sama posting-an ini. tapi kalo di kantor saya, masih ada tambahan buat kerjaan editor. membuat layout sendiri. eh sama proofread juga sendiri deh. huhuhu.. *nangis di kolong meja*

    • Layout sendiri berarti kerjanya pakai in-design? (taunya cuma in-design)
      Proofread sendiri pula? Wah! Proofreader itu matanya sangat-sangat-sangaat awas. *menjura*

      • iya, in-design. tapi kalo untuk border atau sekadar frame, biasanya bikin sendiri saja pake lightroom..
        proofread? hadeh, bikin kucek-kucek mata. apalagi nge-proofread edit-an sendiri..
        btw, ijin follow blog-nya ya mbak. salam kenal looh.. 🙂

  6. salam kenal. makasih sharingnya mbak. jadi memikirkan profesi ini, biar bisa nyambi urus rumah tangga. 🙂

  7. Wah, salam kenal mbak Nur, Dewa sungguh tulisan ini.. dibanding pekerjaann saya yang cuma copy editor kelas “teri” sangat sungguh jauh berbeda..hehe, dan jadi berpikir dua kali untuk melangkah lebih jauh menjadi editor buku.. trims ya mbak!

  8. Terima kasih tulisannya, membuka wawasan. Untung dulu saya batal jadi editor in-house, karena tugasnya ternyata bisa bikin muntah-muntah, konstan darah tinggi, tulang-tulang cepat rapuh karena sering dibanting-banting he he he. Salam hormat buat para editor. Saya kira dulu kerjaannya hanya menyunting naskah dan merapikan ejaan.

  9. Salam kenal.. bener banget mbak, tugasnya seabreg-abreg! dan aq blm menguasai semuanya… bagi tipsnya dong mba ;D btw, izin follow blognya ya mbak… makasih

  10. Ping balik: (Tambahan) Tugas Editor In House | Web Sweet Web

Komentar ditutup.