Tambahan Kerjaan Editor

Gara-gara membicarakan novel yang alurnya lambat dan banyak deskripsi sehingga membosankan, aku jadi teringat duka dan berdarah-darahnya jadi editor (sebelumnya pernah kubahas di sini).

  • Editor harus menahan diri untuk tidak melewatkan bagian deskripsi atau eksposisi yang terasa tak penting dan membosankan (apalagi yang penting!). Walau pingin nangis melihat kalimat panjang, deksripsi, dan eksposisi yang diterjemahkan secara hajar bleh dan semena-mena sampai-sampai sulit dipahami, editor harus memperbaiki kalimat tadi supaya pembaca mudah memahaminya. Paling parah ya terpaksa menerjemahkan ulang.
  • Memeriksa logika kalimat. Misal, “pisau itu menembus daging, tulang, hingga kulit.” Nah, tak berurutan, kan? Yang paling luar kan kulit, ya? Jadi harusnya “menembus kulit, daging, hingga ke tulang.” 😀
  • Kalau hati tak sreg dengan naskah yang ditangani. Misalnya karena genrenya tak sesuai minat atau karena nilai-nilai dalam novel itu bertentangan dengan hati nurani atau nilai-nilai yang dipegang, atau gabungan keduanya. Wah… siksaan 😦
  • Mengurusi  bagian “hiasan” atau “pernak-pernik” yang dirasa tidak penting dan yakin banget bakal dilewat sama pembaca. Contohnya keterangan rumus-rumus di novel The Girl who Played with Fire.
  • Kalau ada glosariumnya… Editor harus memeriksa semua entri di glosarium itu satu per satu. Yang ngeribetin kalau buku pertama dan buku kedua dikerjakan oleh penerjemah yang berbeda dan isi glosarium buku pertama berbeda dari buku kedua (ada tambahan kalimat dalam satu entri, ada entri yang ditambahkan, ada entri yang dibuang). Semua itu harus diperiksa lagi… dengan teliti.
  • Kalau untuk buku non-fiksi seperti buku kesehatan, indeks yang ada di bagian belakang buku itu editor juga yang buat, lho.
  • Tetap harus teliti memperhatikan ciri-ciri fisik para tokoh seperti tinggi badan, warna mata, warna rambut, dan sebagainya. Biasanya penerjemah yang baik punya catatan tokoh X warna matanya biru, rambutnya pirang, hidungnya pesek, dan sebagainya. Tapi… penerjemah kan manusia juga. Aku pernah tak sengaja menerjemahkan ‘green’ jadi ‘biru’, entah lagi ngelamunin apa. Untung editornya jeli.
  • Terkait dengan itu, walaupun ini sebenarnya juga tugas penerjemah, editor tetap harus waspada dengan hubungan kekeluargaan si tokoh. Brother bisa berarti abang tapi juga bisa berarti adik.
Iklan

5 thoughts on “Tambahan Kerjaan Editor

  1. Poin terakhir tuuh… aku juga pernah diwanti-wanti dan ternyata ketahuan mana adik mana kakak itu beberapa bab kemudian:))

    • Hihihi. Aku juga pernah begitu. Sebel kalau tak ada penjelasan lugas “big-brother” atau “little-brother” 😦

  2. Ping balik: Adegan Sadis | Web Sweet Web

  3. Oh ya, editor juga kebagian direcokin kalau materinya berupa fotokopian dan ada kalimat terpotong. Kasian deh editorku dulu, bolak-balik ngemail dengan ejaan bahasa Prancis yang ribet:))

  4. Ping balik: Agar Menyunting Terjemahan Tetap Asyik | Web Sweet Web

Komentar ditutup.