Bagaimana Aku Menjadi Penerjemah dan Editor Lepas

Sewaktu kecil, Ibu sering mendongeng untukku. Macam-macam ceritanya. Mulai dari segala macam cerita Kancil, lalu cerita kocak tentang Kentus Anak si Bentus dan Pong si Bulu Pala, pangeran yang berubah jadi bangau, sampai cerita yang bikin merinding seperti cerita tentang orang yang kepalanya bisa terpisah dari badan lalu terbang buat ngisap darah. Cara Ibuku mendongeng bukan dengan membacakan buku cerita seperti yang umum saat ini, ya. Ibuku itu mirip pendongeng 1001 malam. Cerita ngalir gitu aja dari mulut Ibu, lengkap dengan gaya ceritanya yang seru. Ibuku bilang sewaktu kanak-kanak dia sering main di kios buku Kakek dan baca buku-buku cerita yang ada di sana dan cerita-cerita itulah yang didongengkannya untuk aku dan adikku, tentu yang Ibu ingat saja.

Selain mendengar dongeng Ibu, hidupku juga diperkaya oleh “Album Donal Bebek”. Bebek inilah yang memacuku untuk cepat-cepat pintar membaca.

Sumber: wikipedia

Sekitar SD, aku mulai berkenalan dengan novel-novel Enid Blyton. Aku ingat novel Enid Blyton pertama yang kubaca adalah Si Kembar di Sekolah yang Baru. Minjem baca punya tetangga. Hihihi.

Pada akhir SD, Ibu mulai memberiku uang jajan (sebelumnya tidak, aku biasa bawa bekal). Awalnya, Ibu memberiku uang jajan harian. Setelah beberapa waktu, Ibu mulai memberi di awal minggu. Setelah itu meningkat dikasi sebulan sekali. Bulan pertama, uang jajanku habis sebelum waktunya. Dimarahi, deh. Untungnya masih dimaafkan dan uang jajan dikasi lagi, tapi bulan berikutnya, kalau uang jajanku habis sebelum waktunya, ya sudahlah terima saja nasib.
Setelah pintar mengatur uang jajan bulanan, aku pun mulai mengoleksi buku. Aku rela tidak jajan makanan demi beli buku. Novel pertama yang kubeli pakai uang jajan sendiri dan kukoleksi adalah Trio Detektif, bukan Lima Sekawan, mungkin karena Lima Sekawan terlalu main stream. Saat komik Jepang mulai diterbitkan oleh Elex, aku juga mulai mengoleksinya. Tapi karena uang terbatas, ya … terpaksa deh pilih-pilih, tak mungkin kubeli semua. Pada masa itu aku lebih sering beli komik daripada novel, tapi lama-lama porsinya berbalik sehingga sekarang aku lebih sering beli novel daripada komik.

Sumber: wikipedia

 Pada masa membaca Trio Detektif itu, sempat terpikir olehku betapa enaknya jadi penerjemah. Cuma membaca (saat itu kupikir membaca dan menerjemahkan itu sama saja), dibayar, uangnya bisa dipakai untuk beli buku yang kusuka. Serius! Kupikir pekerjaan penerjemah itu ceteeek. Halah, cuma bahasa Inggris, apa sih susahnya? 😀

SMP kelas dua, aku berkenalan dengan game komputer genre adventure dan yang pertama kali kumainkan adalah Quest for Glory IIIGame inilah yang membuatku sadar betapa jeleknya kemampuan bahasa Inggrisku. Baca dialognya game itu aja aku mesti bolak-balik buka kamus sambil. Ampun, deh. Tapi akhirnya game itu berhasil juga kutamatkan. Ceritanya ya nangkep-nangkep dikit deh 😛

Sumber: wikipedia

 Setelah QG III itu, aku jadi suka game komputer dan mulailah mencoba game yang lain. Mulai dari Star Trek (tapi tak selesai), King Quest VIGabriel Knight IMonkey Island, dan macam-macam. Sampai saat ini pun aku masih suka main game dan masih setia menanti seri Nancy Drew. Kurasa, gamelah yang pertama kali meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku (meski kemampuan yang pasif yaitu menyimak dan memahami) 😀

sumber: wikia

Setelah menamatkan SMA di jurusan IPA karena jurusan Bahasa ditiadakan, aku kuliah di Biologi karena aku diharuskan masuk ITB padahal di ITB tak ada jurusan Bahasa. Setelah jadi sarjana, aku yang tak tau mau apa sempat mencicipi pekerjaan editor di penerbitan pamanku. Sayangnya, saat itu aku belum siap kerja karena masih mau semau gueSuka-suka aku, hari ini ngantor besok kerja di rumah. Untungnya Pamanku baik banget. Bayangin: dia ngasi aku kerjaan, ngasi aku gaji (meski tidak full), tapi hasilnya nihil. *ngejitak kepala sendiri* Moga-moga kebaikan pamanku itu dibalas berlipat ganda oleh Tuhan. Aamiin.

Karena pusing melihatku, Ibu menyuruhku melanjutkan kuliah S2. Nah, karena hampir setiap hari harus berkutat dengan jurnal dan buku ajar yang berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Inggrisku meningkat pesat lagi. Apalagi karena setelah membaca aku harus menuliskan kembali apa yang kupahami. Ternyata memang membaca lalu menuliskan kembali itu adalah cara yang bagus berlatih menerjemahkan seperti cerita Mbak Dina Begum di sini.

Setelah lulus S2, aku kembali galau karena madesu. Lalu dosenku, yang mungkin kasihan melihatku seperti itu, mengajakku ngobrol dan kemudian memintaku menerjemahkan sepuluh halaman. Saat itu aku merasa kemampuan bahasa Inggrisku sudah cukup mumpuni. Namun ternyata setelah order pertama tersebut dosenku tak pernah memintaku menerjemahkan lagi. Itu artinya … hasil terjemahanku buruk nian. *merutuki diri di pojokan*

Meski begitu, pekerjaan dari dosenku itu membuatku teringat dulu aku ingin jadi penerjemah. Jadi aku mencoba mencari jalan untuk berkarir di dunia penerjemahan. Untunglah Tuhan membukakan jalan! Atas informasi dari seorang teman baik, tahun 2007 aku pun melamar dan akhirnya bekerja di biro penerjemahan yang sering dipercaya menangani naskah kedokteran gigi, kedokteran, psikologi, jurnal medis, dan lainnya. Di biro itu aku ikut pelatihan dan mulai belajar menerjemahkan, berkenalan dengan metoda Nida, serta belajar ulang mencari Subjek, Predikat, Objek, Keterangan dalam satu kalimat serta mencari anak dan induk kalimat. Pokoknya seperti pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD dulu, deh 😀

Setelah bekerja di biro tersebut selama satu setengah tahun dengan honor kecil (tapi mendapat banyak ilmu dan pengalaman), aku pun mengikuti Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) di UI. Konon ujiannya sulit, jadi aku tidak yakin bakal lolos (tapi ternyata aku lulus). Berhubung hasil UKP baru diumumkan enam bulan berikutnya–mungkin malah lebih–aku pun memanfaatkan waktu kosong itu dengan mengirimkan lamaran dan contoh terjemahan ke berbagai penerbit. Itu pun setelah mencari caranya dan menemukan tulisan Mbak Femmy ini yang dulu ada di multiply. Sayangnya, usahaku itu gagal total. Semua lamaranku tidak berbalas sama sekali. *remas-remas kaus*

Di saat sedang putus asa, tiba-tiba aku membaca lowongan editor di milis buku yang kuikuti. Sayangnya, umurku ketuaan (sudah lewat syarat usia maksimal). Mulanya aku segan untuk mengirimkan lamaran. Udah lewat umur gitu. Tapi temanku menyemangati, “Kirim saja. Kalau mereka tertarik pasti mereka manggil. Kalau nggak, tak ada ruginya juga, toh?” Jadi ya … aku pun melamar. Tak dinyana, panggilan untuk tes dan wawancara pun datang … dan tau-tau saja aku diterima jadi editor in-house di Mizan.

Maka pada akhir Januari 2009, aku mulai bekerja di Mizan Pustaka bersama Indradya dan Mbak Esti Budihabsari sebagai editor yang ternyata kerjaannya buanyak banget, bukan cuma mengurusi teks. Pekerjaan editor itu seru, mulai dari main ke toko buku, berhubungan dengan penulis, mengontak penerjemah, dan macam-macam. Yang paling kusuka ada merancang konsep desain cover dan memilih-milih cover mana yang akan dipakai untuk buku. Kenapa aku suka mengurusi cover? Karena rasanya seperti cuci mata. Enak liat-liat gambar indah setelah lama memelototi naskah 😀

Sayangnya, setelah bekerja selama beberapa bulan di sana, aku sadar ternyata aku memang TIDAK memiliki jiwa karyawan. Aku tak suka terpaksa bekerja Senin-Jumat dari 08:00-17:00. Aku maunya kerja pas aku mau, libur sesuka hati tanpa perlu lapor-lapor. Aku maunya bisa sakit tanpa perlu ke dokter buat minta surat sakit untuk dilaporkan ke kantor. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pada awal tahun 2010 aku memutuskan untuk mengundurkan diri.

Sejak itu hingga saat ini, aku bekerja sebagai penerjemah dan editor freelance.

Iklan

2 thoughts on “Bagaimana Aku Menjadi Penerjemah dan Editor Lepas

  1. Salam kenal mbak. Aku baca tulisan mb yg ini jadi semangat buat nyoba jadi editor. Tapi, aku gak tau gimana caranya bisa jadi editor freelance. Tolong bagi-bagi pengalaman dan informasinya mba. O, iya, aku bukan lulusan bidang bahasa, tapi tertarik banget sama dunia editing tulisan. Gimana menurut mb? Thks before.

Komentar ditutup.