Ulik-Ulik Windows 10 Home

Ini catatan dari apa-apa yang kulakukan saat mengulik Windows 10 Home yang baru kuinstal supaya terasa lebih ‘personal’, karena aku nggak demen banget dengan setting-an defaultnya.

Catatan Berhubung ada cara-cara yang melibatkan regedit, kalau ingin mengikuti catatan ini, jangan lupa bikin restore point dulu dan risiko harap tanggung sendiri! Jangan protes ke saya kalau komputer Anda rusak!

 

Membuat Local Account

Berhubung aku lebih suka komputerku tidak terhubung dengan akun Microsoft, aku mengikuti cara yang ada di artikel satu ini.

 

Menghapus Profile Picture

Caranya ada di sini, yang kurang lebih begini:

  1. Copy-paste%appdata%\Microsoft\Windows\AccountPictures” di address bar Explorer lalu tekan Enter.

lokasi profile picture

  1. Hapus foto atau gambar profile yang tidak diinginkan lagi.

 

Supaya hanya perlu menggoyang mouse tanpa perlu ketik-ketik password saat membangunkan komputer yang tertidur (sleep)

Aku mengikuti cara yang ada di sini, yang kurang lebih:

  1. Settings –> Accounts –> Sign-in options
  2. Pilih Never.

sleep sign-in-edit

 

Supaya tidak perlu ketak-ketik password saat menyalakan komputer

Ini beda dengan yang di atas. Aku mengikuti cara yang ada di artikel ini, yang kurang lebih:

  1. Buka Run dengan menekan Windows key + R, ketik netplwiz, klik OK.

netplwiz.JPG

  1. Kalau keluar kotak minta izin apa gitu, klik Yes.
  2. Buang centang dari kotak “Users must enter a user name and password to use this computer

Autologin-edit

 

Internet

Mengganti Nama Network

Saat melihat nama network yang dibuat otomatis oleh Windows 10 aku jadi sering bingung dan bertanya-tanya,“Hmm, Network 1 itu yang ke router atau yang ke Mi-Fi? Network 3 yang ke hape gitu? Eh, atau yang ke router, ya? Eh … waduuuh. Yang mana ini???” Karena itulah aku merasa perlu untuk menamai sendiri networknya. Untung nemu artikel satu ini.

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

  1. Buka Run dengan Windows key + R, ketik regedit, klik OK.

regedit

  1. Buka HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\NetworkList\Profiles
  2. Klik folder berangka panjang di bawah Profiles di jendela sebelah kiri (angkanya kemungkinan berbeda, jadi jangan pakai angka yang ada pada gambar di bawah sebagai acuan), lihat PofileName di jendela sebelah kanan. Pastikan itu network yang ingin diganti namanya.
  3. Klik PofileName dua kali. Ganti dengan nama yang diinginkan.

Nama Network-edit

Hasilnya kurang lebih seperti contoh ini. Kalau keliru, tinggal diulang.

Hasil nama network-edit

 

Supaya Internet Menjadi Metered Connection karena aku pakai kuota

Katanya Windows 10 Home akan melakukan update otomatis secara diam-diam (di belakang layar) begitu terhubung dengan internet. Waduh, kuota internetku bisa mendadak habis, dong! Aku kan pakai internet yang berbasis kuota, bukan yang unlimited. Apa? Pindah ke internet yang pakai kabel itu? Hehehe … In**Ho** aja belum sampai ke area ini.

Untunglah aku menemukan artikel yang, setelah kuikuti menjadikan Windowsku tidak semena-mena melakukan update. Lihat hasilnya! Dia nunggu izin! Gitu dong, Win. Kalau mau update tuh ya minta izin dulu!

Metered connection-edit

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

Ini dia artikelnya. Sengaja disimpan di belakang karena pakai regedit.

Kalau mengikuti langkah di artikel tersebut, update Windowsnya jadi manual, ya. Mungkin jadi agak repot, tapi setidaknya waktu updatenya lebih bisa dikontrol sesuka hati kita, bukan sesuka hati Windows. Hehehe 🙂

 

Windows Explorer

Mengubah Lokasi File-File

Ini kulakukan karena aku menyimpan data-data di D, bukan di C.

  1. Settings –> System –> Storage
  2. Lihat Save Location
  3. Ubah sesuka hati.
    Secara default semua aplikasi, dokumen, musik, foto, dan video disimpan di C (This PC), tapi aku mengubahnya menjadi seperti pada gambar. Documents kubiarkan di C supaya file-file save-an game tidak tercampur dengan file-file pekerjaan dan file-file pribadi yang kusimpan rapi di D.

Lokasi default dokumen dan lainnya-edit

 

Menyembunyikan Folder Documents, Music, Pictures, Videos di This PC

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

Ini kulakukan karena aku nggak suka melihatnya dobel-dobel. Di This PC ada, eh … di Libraries ada lagi. Buat apa?

Kedua, karena folder-folder di This PC itu nggak bisa diatur isinya, beda dengan yang ada di Libraries. Kalau yang di Libraries, aku bisa ngatur folder-folder mana saja yang ingin kutampilkan di sana.Coba lihat gambar terakhir, di situ terlihat Documents Libraries terdiri atas dua folder, satu di C dan satu di D.

Nggak ngerti? Yo wes, tak apa. Ini mah selera pribadi 😀

Caranya menyembunyikannya ada di artikel ini atau artikel yang merinci satu per satu ini.

 

Menaikkan Posisi Libraries ke atas This PC supaya mirip Win 7

Kenapa? Karena sudah nyaman dengan tampilan Windows Explorernya Win 7, sih 😛
Aku mengikuti langkah-langkah di artikel ini, meski ada sedikit perbedaan.

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

  1. Buka Run dengan  Windows key + R, ketik regedit, klik OK.
  2. Buka HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{031E4825-7B94-4dc3-B131-E946B44C8DD5}
  3. Klik SortOrderIndex dua kali, masukkan angka 44 (hexadecimal) (beda dengan yang di artikel), klik OK.

Libraries-edit

  1. Hasilnya baru terlihat setelah Windows Explorer di-restart.
    Cara merestart Windows Explorer: klik kanan pada taskbar lalu klik Task Manager, di-tab Processes klik Windows Explorer supaya tersorot, klik Restart.

restart windows explorer-edit

 

Hasil setelah menyembunyikan folder Documents, Pictures, dll serta memindahkan Libraries ke atas This PC. Jadi mirip Win 7, kan?

Explorer-Lib-Doc-edit2

Sekian catatannya. Rasanya banyak sih yang kulakukan, tapi kurasa ini sudah mencakup semua yang kurasa penting. Yah, namanya juga selera pribadi 😀

 

 

Klinik Terjemahan Buku 2015

Terbaru: Pendaftaran sudah ditutup karena sudah melebihi kuota.

Untuk merayakan Hari Penerjemahan Internasional tanggal 30 September mendatang, gerombolan Pemburu Singa Mati ingin mengajak teman-teman mencicipi serunya dunia penerjemahan buku melalui klinik daring kecil-kecilan.

Teman-teman yang berminat dan ingin mencoba menerjemahkan buku akan mendapat naskah dari kami untuk diterjemahkan (tidak banyak, namanya juga icip-icip) lalu hasilnya akan disunting dan dibahas bersama pengampu klinik yang terdiri atas para penerjemah dan editor keren (uhuk). Dengan syarat teman-teman tidak keberatan hasil terjemahannya nanti dimuat di blog para pengampu.

Peserta dibatasi sekitar 30 orang saja, dan pendaftaran ditutup tanggal 14 September 2015 pukul 19:00 (dimajukan karena jumlah peserta telah melebihi kuota). Jadi segeralah mendaftarkan diri ke surel penerjemah.editorbuku@gmail.com dengan subjek “Klinik Terjemahan Buku 2015” dan format:
Nama :
Akun FB atau twitter :
Sudah pernah menerjemahkan atau belum:

Peserta yang terpilih akan kami hubungi lewat surel. Bagi yang tidak kami hubungi, bisa ikutan lagi di lain waktu. Jangan sampai kehabisan tempat!

Selamat menerjemahkan. Selamat bermain dengan kata dan aksara 🙂

Salam,
Pemburu Singa Mati

Ingin Jadi Penerjemah (Buku)?

Aku ingin jadi penerjemah, tapi aku bukan dari jurusan Bahasa. Bisa tidak?
Aku lulusan Biologi, lho. Master pula 😛

Kalau mau jadi penerjemah, harus pernah tinggal di luar negeri, ya?
Sampai saat ini aku belum pernah ke luar negeri, apalagi tinggal di sana.

Skor TOEFL mesti gede, ya?
Kalau yakin dengan kemampuan bahasamu, coba aja melamar jadi penerjemah, tak usah mikirin skor TOEFL.

Wah, jadi tak perlu dari jurusan Bahasa, ya? Tak perlu pernah tinggal di luar negeri juga? Tak perlu skor TOEFL tinggi? Gampang banget ya jadi penerjemah?
Yee, kata siapa? Tidak sembarang orang bisa jadi penerjemah. *berdiri dengan pose sombong sambil kipas-kipas*

Jadi bagaimana, dong?
Begini. Buat jadi penerjemah, yang penting adalah:

  1. Mampu memahami bacaan berbahasa asing dengan baik. Bagaimana mungkin seseorang jadi penerjemah kalau memahami bacaan saja tak bisa?
  2. Mampu menulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan bahasa yang luwes dan mudah dipahami. Kalau kamu memahami isi bacaan tapi tidak mampu menyampaikannya kembali dengan bahasa yang dapat dimengerti pembaca, bagaimana mungkin jadi penerjemah?
  3. Menguasai materi.
  4. Mampu memenuhi tenggat. Jadi mesti pintar mengatur waktu kerja.

Aku mampu menulis, tapi kalau mesti Bahasa Indonesia yang baik dan benar, jadinya kaku.
Kamu sudah berada di jalan yang benar. Cobalah sering-sering latihan menulis resensi buku.

Honornya bagaimana?
Honor tergantung penerbit. Ada penerbit yang menghitungnya per halaman jadi, ada yang per huruf tanpa spasi, ada yang per huruf dengan spasi. Per halaman mungkin sekitar 12-15 ribu per halaman. Kalau per huruf … yang aku tahu baru Gramedia, tapi bisalah dijadikan acuan. Gramedia menetapkan Rp4 – Rp14 per karakter dengan spasi baik untuk naskah fiksi dan non-fiksi, seperti juga disebutkan di tulisan ini. Baca juga Berapakah Honor Penerjemah Buku.

Bagaimana cara menjadi penerjemah?
Silahkan baca dan resapi:

  1. Tulisan Mbak Femmy ini. Lengkap banget. Jangan lupa baca semua komen di bawahnya (panjang memang, tapi sangat mencerahkan).
  2. Tanya jawab dengan Mbak Dina Begum.
  3. Jawaban Mbak Rini Nurul Badariah atas pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seputar dunia penerjemahan.

Bikin surat lamarannya bagaimana?
Ada di sini. Di salah satu bagian tulisan ini ada tips kalau kamu melamar via e-mail.

Harus melamar, ya? Langsung diterima?
Umumnya melamar, tapi jalan tiap orang beda-beda, kok.

  1. Mbak Rini melamar, menjalani tes penerjemahan, dan akhirnya lulus.
  2. Mbak Dina sempat ikut kursus penerjemahan di UI.
  3. Mbak Poppy jadi penerjemah karena ditawari.
  4. Aku malah jadi editor in-house dulu karena semua lamaran untuk jadi penerjemah yang kulayangkan ke penerbit sama sekali tak bersambut.

Mesti menjalani tes, ya?
Tentu saja, masa tidak?

Aku maunya tidak dites.
Hehehe. Tenang … anak baru pasti dites 😀

Mbak, rekomendasiin aku ke penerbit, dong.
Hehehehe 😛

Aku mau dong magang di Mbak.
Sayangnya, aku tak terima murid. Jangan sedih. Ini kukasi tautan-tautan penting.

Aku pernah baca atau dengar tentang CAT-Tools. Apakah itu penting untuk penerjemah?
Menurutku pribadi, kalau kamu ingin jadi penerjemah buku, kamu tidak perlu terlalu sibuk mempelajari CAT-Tools. Kenapa? Karena yang penting adalah ketepatan menerjemahkan dan kelihaian mengolah kata sehingga pembaca terhanyut dalam cerita.

Tapi kalau kamu mau belajar, ya boleh-boleh aja, siapa tau kamu malah jadi penerjemah non-buku (dokumen) yang duitnya lebih gede 🙂 Cari yang gratisan saja. CAT-Tool pertama yang kupelajari adalah Wordfast Classic (bukan yang pro) dan menurutku itu sudah cukup karena simple, tidak ribet, dan sudah termasuk glosarium untuk membantu mendata padanan istilah. Cara pakainya ada di sini. Pakai yang demo saja, tak usah beli. Sayang duit. Kalau kamu merasa terbantu dengan itu dan berminat beli, ya silahkan. Kalau tak mau beli, ya silahkan juga 🙂

Penerjemah non-buku itu apa?

Ya penerjemah yang menerjemahkan naskah selain buku, misalnya dokumen hukum, kontrak, naskah kedokteran, jurnal, penerjemah film, dan sebagainya.
Masih ada lagi juru bahasa alias interpreter atau penerjemah lisan.

Berhubung aku tidak dapat bercerita banyak soal penerjemah non-buku ataupun juru bahasa, silahkan baca tulisan ini dan cari tahu lebih banyak di Himpunan Penerjemah Indonesia, baca-baca terutama yang kategori Umum, dan Lapanta. Untuk gambaran lebih dalam tentang dunia alih bahasa, silahkan baca-baca blog Bahtera. Lalu, untuk bonus, ini ada tips menjadi penerjemah internasional.

Terima kasih banyak untuk semua yang tulisannya dengan semena-mena kutaut di sini 🙂

Bagaimana Aku Menjadi Penerjemah dan Editor Lepas

Sewaktu kecil, Ibu sering mendongeng untukku. Macam-macam ceritanya. Mulai dari segala macam cerita Kancil, lalu cerita kocak tentang Kentus Anak si Bentus dan Pong si Bulu Pala, pangeran yang berubah jadi bangau, sampai cerita yang bikin merinding seperti cerita tentang orang yang kepalanya bisa terpisah dari badan lalu terbang buat ngisap darah. Cara Ibuku mendongeng bukan dengan membacakan buku cerita seperti yang umum saat ini, ya. Ibuku itu mirip pendongeng 1001 malam. Cerita ngalir gitu aja dari mulut Ibu, lengkap dengan gaya ceritanya yang seru. Ibuku bilang sewaktu kanak-kanak dia sering main di kios buku Kakek dan baca buku-buku cerita yang ada di sana dan cerita-cerita itulah yang didongengkannya untuk aku dan adikku, tentu yang Ibu ingat saja.

Selain mendengar dongeng Ibu, hidupku juga diperkaya oleh “Album Donal Bebek”. Bebek inilah yang memacuku untuk cepat-cepat pintar membaca.

Sumber: wikipedia

Sekitar SD, aku mulai berkenalan dengan novel-novel Enid Blyton. Aku ingat novel Enid Blyton pertama yang kubaca adalah Si Kembar di Sekolah yang Baru. Minjem baca punya tetangga. Hihihi.

Pada akhir SD, Ibu mulai memberiku uang jajan (sebelumnya tidak, aku biasa bawa bekal). Awalnya, Ibu memberiku uang jajan harian. Setelah beberapa waktu, Ibu mulai memberi di awal minggu. Setelah itu meningkat dikasi sebulan sekali. Bulan pertama, uang jajanku habis sebelum waktunya. Dimarahi, deh. Untungnya masih dimaafkan dan uang jajan dikasi lagi, tapi bulan berikutnya, kalau uang jajanku habis sebelum waktunya, ya sudahlah terima saja nasib.
Setelah pintar mengatur uang jajan bulanan, aku pun mulai mengoleksi buku. Aku rela tidak jajan makanan demi beli buku. Novel pertama yang kubeli pakai uang jajan sendiri dan kukoleksi adalah Trio Detektif, bukan Lima Sekawan, mungkin karena Lima Sekawan terlalu main stream. Saat komik Jepang mulai diterbitkan oleh Elex, aku juga mulai mengoleksinya. Tapi karena uang terbatas, ya … terpaksa deh pilih-pilih, tak mungkin kubeli semua. Pada masa itu aku lebih sering beli komik daripada novel, tapi lama-lama porsinya berbalik sehingga sekarang aku lebih sering beli novel daripada komik.

Sumber: wikipedia

 Pada masa membaca Trio Detektif itu, sempat terpikir olehku betapa enaknya jadi penerjemah. Cuma membaca (saat itu kupikir membaca dan menerjemahkan itu sama saja), dibayar, uangnya bisa dipakai untuk beli buku yang kusuka. Serius! Kupikir pekerjaan penerjemah itu ceteeek. Halah, cuma bahasa Inggris, apa sih susahnya? 😀

SMP kelas dua, aku berkenalan dengan game komputer genre adventure dan yang pertama kali kumainkan adalah Quest for Glory IIIGame inilah yang membuatku sadar betapa jeleknya kemampuan bahasa Inggrisku. Baca dialognya game itu aja aku mesti bolak-balik buka kamus sambil. Ampun, deh. Tapi akhirnya game itu berhasil juga kutamatkan. Ceritanya ya nangkep-nangkep dikit deh 😛

Sumber: wikipedia

 Setelah QG III itu, aku jadi suka game komputer dan mulailah mencoba game yang lain. Mulai dari Star Trek (tapi tak selesai), King Quest VIGabriel Knight IMonkey Island, dan macam-macam. Sampai saat ini pun aku masih suka main game dan masih setia menanti seri Nancy Drew. Kurasa, gamelah yang pertama kali meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku (meski kemampuan yang pasif yaitu menyimak dan memahami) 😀

sumber: wikia

Setelah menamatkan SMA di jurusan IPA karena jurusan Bahasa ditiadakan, aku kuliah di Biologi karena aku diharuskan masuk ITB padahal di ITB tak ada jurusan Bahasa. Setelah jadi sarjana, aku yang tak tau mau apa sempat mencicipi pekerjaan editor di penerbitan pamanku. Sayangnya, saat itu aku belum siap kerja karena masih mau semau gueSuka-suka aku, hari ini ngantor besok kerja di rumah. Untungnya Pamanku baik banget. Bayangin: dia ngasi aku kerjaan, ngasi aku gaji (meski tidak full), tapi hasilnya nihil. *ngejitak kepala sendiri* Moga-moga kebaikan pamanku itu dibalas berlipat ganda oleh Tuhan. Aamiin.

Karena pusing melihatku, Ibu menyuruhku melanjutkan kuliah S2. Nah, karena hampir setiap hari harus berkutat dengan jurnal dan buku ajar yang berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Inggrisku meningkat pesat lagi. Apalagi karena setelah membaca aku harus menuliskan kembali apa yang kupahami. Ternyata memang membaca lalu menuliskan kembali itu adalah cara yang bagus berlatih menerjemahkan seperti cerita Mbak Dina Begum di sini.

Setelah lulus S2, aku kembali galau karena madesu. Lalu dosenku, yang mungkin kasihan melihatku seperti itu, mengajakku ngobrol dan kemudian memintaku menerjemahkan sepuluh halaman. Saat itu aku merasa kemampuan bahasa Inggrisku sudah cukup mumpuni. Namun ternyata setelah order pertama tersebut dosenku tak pernah memintaku menerjemahkan lagi. Itu artinya … hasil terjemahanku buruk nian. *merutuki diri di pojokan*

Meski begitu, pekerjaan dari dosenku itu membuatku teringat dulu aku ingin jadi penerjemah. Jadi aku mencoba mencari jalan untuk berkarir di dunia penerjemahan. Untunglah Tuhan membukakan jalan! Atas informasi dari seorang teman baik, tahun 2007 aku pun melamar dan akhirnya bekerja di biro penerjemahan yang sering dipercaya menangani naskah kedokteran gigi, kedokteran, psikologi, jurnal medis, dan lainnya. Di biro itu aku ikut pelatihan dan mulai belajar menerjemahkan, berkenalan dengan metoda Nida, serta belajar ulang mencari Subjek, Predikat, Objek, Keterangan dalam satu kalimat serta mencari anak dan induk kalimat. Pokoknya seperti pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD dulu, deh 😀

Setelah bekerja di biro tersebut selama satu setengah tahun dengan honor kecil (tapi mendapat banyak ilmu dan pengalaman), aku pun mengikuti Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) di UI. Konon ujiannya sulit, jadi aku tidak yakin bakal lolos (tapi ternyata aku lulus). Berhubung hasil UKP baru diumumkan enam bulan berikutnya–mungkin malah lebih–aku pun memanfaatkan waktu kosong itu dengan mengirimkan lamaran dan contoh terjemahan ke berbagai penerbit. Itu pun setelah mencari caranya dan menemukan tulisan Mbak Femmy ini yang dulu ada di multiply. Sayangnya, usahaku itu gagal total. Semua lamaranku tidak berbalas sama sekali. *remas-remas kaus*

Di saat sedang putus asa, tiba-tiba aku membaca lowongan editor di milis buku yang kuikuti. Sayangnya, umurku ketuaan (sudah lewat syarat usia maksimal). Mulanya aku segan untuk mengirimkan lamaran. Udah lewat umur gitu. Tapi temanku menyemangati, “Kirim saja. Kalau mereka tertarik pasti mereka manggil. Kalau nggak, tak ada ruginya juga, toh?” Jadi ya … aku pun melamar. Tak dinyana, panggilan untuk tes dan wawancara pun datang … dan tau-tau saja aku diterima jadi editor in-house di Mizan.

Maka pada akhir Januari 2009, aku mulai bekerja di Mizan Pustaka bersama Indradya dan Mbak Esti Budihabsari sebagai editor yang ternyata kerjaannya buanyak banget, bukan cuma mengurusi teks. Pekerjaan editor itu seru, mulai dari main ke toko buku, berhubungan dengan penulis, mengontak penerjemah, dan macam-macam. Yang paling kusuka ada merancang konsep desain cover dan memilih-milih cover mana yang akan dipakai untuk buku. Kenapa aku suka mengurusi cover? Karena rasanya seperti cuci mata. Enak liat-liat gambar indah setelah lama memelototi naskah 😀

Sayangnya, setelah bekerja selama beberapa bulan di sana, aku sadar ternyata aku memang TIDAK memiliki jiwa karyawan. Aku tak suka terpaksa bekerja Senin-Jumat dari 08:00-17:00. Aku maunya kerja pas aku mau, libur sesuka hati tanpa perlu lapor-lapor. Aku maunya bisa sakit tanpa perlu ke dokter buat minta surat sakit untuk dilaporkan ke kantor. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pada awal tahun 2010 aku memutuskan untuk mengundurkan diri.

Sejak itu hingga saat ini, aku bekerja sebagai penerjemah dan editor freelance.

Tambahan Kerjaan Editor

Gara-gara membicarakan novel yang alurnya lambat dan banyak deskripsi sehingga membosankan, aku jadi teringat duka dan berdarah-darahnya jadi editor (sebelumnya pernah kubahas di sini).

  • Editor harus menahan diri untuk tidak melewatkan bagian deskripsi atau eksposisi yang terasa tak penting dan membosankan (apalagi yang penting!). Walau pingin nangis melihat kalimat panjang, deksripsi, dan eksposisi yang diterjemahkan secara hajar bleh dan semena-mena sampai-sampai sulit dipahami, editor harus memperbaiki kalimat tadi supaya pembaca mudah memahaminya. Paling parah ya terpaksa menerjemahkan ulang.
  • Memeriksa logika kalimat. Misal, “pisau itu menembus daging, tulang, hingga kulit.” Nah, tak berurutan, kan? Yang paling luar kan kulit, ya? Jadi harusnya “menembus kulit, daging, hingga ke tulang.” 😀
  • Kalau hati tak sreg dengan naskah yang ditangani. Misalnya karena genrenya tak sesuai minat atau karena nilai-nilai dalam novel itu bertentangan dengan hati nurani atau nilai-nilai yang dipegang, atau gabungan keduanya. Wah… siksaan 😦
  • Mengurusi  bagian “hiasan” atau “pernak-pernik” yang dirasa tidak penting dan yakin banget bakal dilewat sama pembaca. Contohnya keterangan rumus-rumus di novel The Girl who Played with Fire.
  • Kalau ada glosariumnya… Editor harus memeriksa semua entri di glosarium itu satu per satu. Yang ngeribetin kalau buku pertama dan buku kedua dikerjakan oleh penerjemah yang berbeda dan isi glosarium buku pertama berbeda dari buku kedua (ada tambahan kalimat dalam satu entri, ada entri yang ditambahkan, ada entri yang dibuang). Semua itu harus diperiksa lagi… dengan teliti.
  • Kalau untuk buku non-fiksi seperti buku kesehatan, indeks yang ada di bagian belakang buku itu editor juga yang buat, lho.
  • Tetap harus teliti memperhatikan ciri-ciri fisik para tokoh seperti tinggi badan, warna mata, warna rambut, dan sebagainya. Biasanya penerjemah yang baik punya catatan tokoh X warna matanya biru, rambutnya pirang, hidungnya pesek, dan sebagainya. Tapi… penerjemah kan manusia juga. Aku pernah tak sengaja menerjemahkan ‘green’ jadi ‘biru’, entah lagi ngelamunin apa. Untung editornya jeli.
  • Terkait dengan itu, walaupun ini sebenarnya juga tugas penerjemah, editor tetap harus waspada dengan hubungan kekeluargaan si tokoh. Brother bisa berarti abang tapi juga bisa berarti adik.

Editor, “… to edit is divine”

“… to edit is divine.”
–Stephen King

Setelah mengalami sendiri menjadi editor di sebuah penerbit, aku pun berpikir begitu. Tapi bukan dalam artian “editor selalu benar maka kata-katanya harus dituruti dan penerjemah yang tidak nurut itu laknat sehingga silakan angkat kaki dan cari penerbit lain”. Eh, bagian angkat kaki itu bisa juga, sih … hanya dalam kasus yang sangat luar biasa parah sekali.

Duluuu aku mengira pekerjaan editor hanya ngurusi naskah, memperbaiki ejaan, dan paling jauh mengubah kalimat. “Tidak banyak. Cuma gitu doang. Lagian kan penerjemah pasti sudah memberikan hasil terbaik jadi aku tinggal rapi-rapiin dikit aja.” Tapi aku salah! Yang kulakukan ternyata:

  • Berburu naskah, untuk buku terjemahan, mengajukannya ke atasan untuk minta reading copy.
  • Mengevaluasi naskah luar (reading copy) dan naskah lokal.
  • Mengorder terjemahan.
  • Menentukan apakah akan menggunakan cover asli atau tidak. Kalau tidak, itu berarti mengorder desain cover.
  • Menentukan ukuran buku, jenis kertas, margin, jenis huruf (font) serta ukurannya (untuk judul, body-text, nomor halaman,  dan running title, juga catatan kaki jika ada ), spasinya. Bahkan menentukan warna font dan hiasan margin untuk buku non-fiksi.
  • Memutuskan apakah buku perlu memakai endorsement dari tokoh lokal atau tidak, kalau iya, maka itu berarti mengontak orang. Kerjaan ini pun bisa mirip detektif. Cari di google, dapat alamat tanpa nomor telepon tanpa e-mail, nelepon penerangan, dikasi nomor telepon kantor itu, nelepon kantornya, dioper ke tempat lain, sampai akhirnya berhasil ngontak asistennya.
  • Ikut memberikan usulan soal promosi buku, kalau ada dan dirasa perlu.
  • Menyunting naskah (lihat bawah).
  • Memilih adegan untuk dibuat ilustrasinya jika memang ingin novel itu ingin diperindah dengan ilustrasi, dan otomatis mengorder ilustrasi.
  • Mengarang  sinopsis.
  • Membuat judul dan/atau subjudul.
  • Melayani pertanyaan proofreader.
  • Memastikan semua pekerjaan selesai tepat waktu agar buku bisa terbit sesuai jadwal.
  • Menghitung anggaran buku.
  • Membuat rencana penerbitan untuk tahun mendatang.
  • Dan mengurusi tetek-bengek lainnya (a.l. membaca email, menyeleksi penerjemah, menampung kritik dan saran pembaca).

Menyunting naskah itu sendiri:

  • Mengecek ketepatan makna. Jika makna pada teks terjemahan melenceng dari aslinya, maka aku memperbaikinya, bisa dengan menambah kata ‘tidak’ sampai harus menerjemahkan ulang.
  • Mengecek logika kalimat.
  • Memeriksa fakta.
  • Melancarkan dan meluweskan hasil terjemahan. Biasanya terjemahan terasa tidak ‘lancar’ karena terlalu mengikuti grammar asli dan bukan mengikuti struktur Bahasa Indonesia (saat jadi penerjemah, aku juga sering terjebak ini). Memenggal kalimat yang terlalu panjang dan sulit dipahami menjadi beberapa kalimat.
  • Mengecek kewajaran dalam Bahasa Indonesia, termasuk melakukan konversi satuan asing ke yang umum dipakai di Indonesia jika penerjemah tidak melakukannya (biasanya sih sudah).
  • Memeriksa aksen, apakah hasil dari penerjemah bisa dipakai atau perlu diperbaiki.
  • Menyensor atau menghaluskan adegan yang terlalu visual atau terlalu sadis.
  • Mengecek repetisi dan pleonasme. Biasanya ada kata yang dibabat, atau diganti dengan sinonimnya.
  • Menyesuaikan dengan selingkung penerbit.
  • Mengganti istilah jika ada padanan yang lebih tepat.
  • Menambahkan catatan kaki jika dianggap perlu.
  • Memperbaiki typo (nyerempet pekerjaan proofreader).
  • Merapikan teks. Apakah semua tanda kutip sudah melentik atau apakah masih ada yang tegak? Apakah semua istilah Anu sudah diawali dengan kapital? Apakah istilah Itu sudah diskursif? Apakah kata sandang ‘sang’ diawali dengan kapital atau huruf kecil, dan apakah sudah seragam? Dan sebagainya. Untungnya, aku “agak” gila kerapihan juga. Hehehe.

Saat ini aku sudah tidak bekerja di kantor, sehingga yang kukerjaan jika mendapat order “hanya” menyunting naskah. “Hanya” karena tetap saja banyak dan masih harus memperhatikan yang perintilan. Tapi terkadang pekerjaanku juga ditambah dengan memilih adegan untuk ilustrasi, mengarang beberapa usulan sinopsis, dan mengajukan beberapa usulan judul. Gimana permintaan saja.

Jadi, ya aku merasa “… to edit is divine” karena pekerjaan editor itu banyaaaak dan dituntut “sempurna”. Kalau bukunya jelek atau ada kekurangan sebiji zarah pun, yang kena caci atau kena tegur pasti si editor. Dan editor tak bisa berkilah “dari penerjemahnya gitu, kok” atau “itu kan penerjemah senior, tak mungkinlah saya yang hina ini mengeditnya”. Hahahaha. Sedihnya, kalau hasilnya bagus, yang dipuji justru si penerjemah padahal si editor sudah nangis-nangis darah dan banting-banting tulang saking terjemahan aslinya amburadul tapi tak bisa diorder ulang.

Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Di Wordfast, kita bisa membuat kamus sendiri. Tinggal memasukkan istilah asli serta padanan/istilah Indonesianya, maka program tersebut akan mengingat dan otomatis mengurutkannya. Miriplah dengan membuat kamus di excel.

Begini contoh kamus buatanku untuk seri Lorien Legacies:020112_1352_SedikitGamb5.jpg

Kelebihannya dibandingkan membuat kamus sendiri di excel adalah Wordfast akan memberi tanda saat menemukan kembali istilah (yang sudah kita simpan ke dalam kamus) di kotak kalimat sumber. Nah, ini buatku membantu sekali karena aku tak perlu mengingat-ingat apakah aku pernah menerjemahkan istilah itu dan padanan apa yang kupakai.

Contohnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Di kotak kalimat sumber terlihat ada kata yang di-highlight biru, Legacy dan Chest. Tanda highlight tersebut muncul karena dua kata tadi sudah tersimpan dalam kamus Wordfast yang kubuat.

020112_1352_SedikitGamb6.jpg

Kok cuma di-highligt? Kok tidak otomatis keluar?
Ya… panjang kalau diterangkan. Itu berhubungan dengan urutan kata. Kalau otomatis keluar, nanti berantakan. Tapi mengeluarkan padanannya mudah, kok.  Kalau melihat gambar di atas tadi, aku cukup mengetik terjemahan seperti ini:

Karena Henri berkata bahwa sistem tata surya itu bukanlah bagian dari L lalu tekan [TAB].

Kenapa L? Untuk menunjuk ke kata Legacy yang diawali huruf ‘L’ di kotak sumber. Istilah padanannya, yaitu “Pusaka” akan langsung muncul di kotak terjemahan tanpa perlu diketik lagi.

Setelah itu terjemahan dilanjutkan dan saat kata Chest akan diterjemahkan, kita tinggal ketik ‘C’ diikuti [TAB] maka padanannya akan langsung muncul. Nah, apa coba padanannya?

Kalau kata yang tidak diterjemahkan gimana? Misalnya nama orang?

Ada dua cara. Yang pertama, dimasukkan ke dalam kamus buatan sendiri seperti di atas.
Yang kedua, pakai cara berikut:
Misalnya seperti contoh di bawah. Di sana terlihat ada kata Garde (yang tidak kumasukkan ke dalam kamus).

Aku menerjemahkan seperti ini dulu:

Awalnya, aku dikenal sebagai Nomor Tujuh, salah satu dari sembilan G lalu tekan [TAB].

Huruf ‘G’ itu akan langsung berubah jadi Garde. Jadi fungsinya mirip-mirip copy-paste. Kalau ada beberapa kata berawalan G di kalimat sumber, ya tinggal tekan [TAB] beberapa kali sampai kata yang diinginkan dikelilingi kotak merah seperti pada gambar.

020112_1352_SedikitGamb7.jpg

Kekurangan cara ini: Kalau dari aslinya sudah typo, dijamin terjemahannya ikut typo. Namanya juga copy-paste. Jadi … untuk yang satu ini mungkin lebih enak pakai autocorrect.

Untuk menerjemahkan novel, kurasa yang paling membantu adalah kamus ini. Tentu saja penggunaan kamus ini tergantung pada si penerjemah sendiri. Misalnya dalam seri Lorien Legacies, “Legacy” yang merujuk kepada kemampuan para Loric akan selalu dipadankan dengan istilah “Pusaka” tapi “legacy” (tidak pakai kapital) yang bukan merujuk pada kekuatan Loric tidak akan ikut-ikutan jadi “pusaka” karena bisa saja diganti dengan kata “warisan”.

Baca juga:
Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)
Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1