A Monstrous Regiment of Women

Pengarang: Laurie R. King
Penerjemah: Nur Aini
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Qanita – Mizan

Bagaimana mungkin perempuan merupakan gambaran Tuhan, jika perempuan adalah untuk laki-laki dan tidak punya kewenangan, baik untuk mengajar, atau menjadi saksi, atau menjadi hakim, apalagi untuk mengatur atau mengepalai negara?
–Santo Agustinus (354-430)

Satu demi satu aktivis perempuan di Bait Allah meninggal secara misterius. Hampir tak ada satu petunjuk pun, kecuali bahwa Margery Childe, pimpinan organisasi itu, mungkin saja terlibat. Mary Russell mulai melakukan penyelidikan, dengan mempelajari kebaktian demi kebaktian, dokumen demi dokumen, dan Injil demi Injil.

Tapi, di manakah Holmes? Seharusnya gurunya itu membantunya, bukannya berulang-ulang menghilang bagaikan tukang sihir. Masa bodoh, pikir Mary. Mungkin lebih baik seperti ini, karena berada di dekat Holmes membuatnya marah, kesal, dan yang lebih parah, tak bisa mengontrol rasa cintanya yang semakin tumbuh.

Ternyata berjauhan dengan Holmes sama sekali bukan solusi bagus. Penyelidikan di Bait Allah membuat Mary harus menanggung dampak yang besar: dia harus melawan kriminal-kriminal keji seorang diri. Tanpa Holmes, tanpa pelindung, atau siapapun ….

Iklan

The Girl who Kicked the Hornets’ Nest

Pengarang: Stieg Larsson
Penerjemah: Nurul Agustina (sampai bab 10) dan Nur Aini (bab 11-tamat)
Penyunting: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Tyo
Penerbit: Qanita

Salander, yang menjadi buronan polisi, ditemukan di sebuah desa terpencil dengan tembakan di kepala. Di tempat yang sama, Zalachenko, pembelot Rusia sekaligus ayah kandungnya, tergeletak dengan kepala nyaris terbelah kapak. Berita itu mengagetkan media Swedia dan juga sebuah kelompok rahasia yang tak ingin dosa lama mereka diungkit kembali.

Kini Salander terpaksa terkurung di rumah sakit, menanti sidang yang akan mengadilinya sebagai pembunuh. Tak ada jalan untuk berkomunikasi dengan Mikael Blomkvist yang mati-matian berusaha  membebaskannya, karena hanya Blomkvist yang percaya bahwa Salander adalah korban jebakan spionase tingkat tinggi. Salander yang selama ini hidup sendiri dan tak percaya pada siapa pun, terpaksa harus mempercayakan keselamatannya pada orang-orang yang selama ini dihindarinya.

Salander dan Blomkvist harus kembali bekerja sama memadukan keahlian mereka, hacking dan investigasi, untuk mengungkap konspirasi yang melibatkan orang-orang penting dalam pemerintahan Swedia.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan ending dari seri thriller yang paling dibicarakan dunia saat ini!

Tentang pengarang :

Stieg Larsson meninggal tahun 2004, beberapa saat setelah mengirimkan naskah The Girl with The Dragon Tattoo dan dua sekuelnya, The Girl who Played with Fire dan The Girl who Kicked the Hornets’ Nest. Ketiga buku itu menjadi sebuah fenomena:

  • Menobatkan Stieg Larsson sebagai pengarang terlaris kedua di dunia tahun 2008.
  • Terjual lebih dari 20 juta kopi di 41 negara.
  • Tiga-tiganya sudah difilmkan di Swedia, dan versi Hollywoodnya akan segera diluncurkan.

Seri Blomkvist-Salander:

  1. The Girl with The Dragon Tattoo
  2. The Girl who Played with Fire
  3. The Girl who Kicked The Hornet’s Nest

Kisah di balik layar bisa dilihat di sini.

The Girl who Played with Fire

Pengarang: Stieg Larsson
Penerjemah: Nurul Agustina
Penyunting: Nur Aini
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Tyo
Penerbit: Qanita

Dua orang jurnalis yang menyelidiki industri perdagangan wanita di Swedia ditemukan tewas. Mayat mereka ditemukan dengan lubang besar di kepala mereka. Bjurman, wali Lisbeth Salander, ditemukan terbunuh di apartemennya.

Sidik jari yang ditemukan di senjata pembunuh ketiga orang itu mengarah pada satu orang : Lisbeth Salander.

Sekali lagi Mikael Blomkvist, wartawan kriminal, dan Lisbeth Salander, si gadis bengal ahli hacking, bertemu dalam kasus yang mengancam hidup mereka. Hanya Blomkvist yang percaya Salander tidak bersalah. Sementara Salander harus bersembunyi, Blomkvist berupaya menemukan bukti-bukti yang bisa membersihkan nama rekannya.

Tak mereka sangka, penyelidikan membawa mereka terlibat dalam sebuah konspirasi besar yang melibatkan banyak pihak, termasuk badan intelijen Swedia. Bahkan, mereka menemukan rahasia kelam yang berhubungan dengan masa lalu Salander.

Kedua pasangan detektif itu harus mengungkap kebenaran sebelum orang-orang yang tak ingin rahasia itu terbongkar berhasil menemukan dan membungkam Salander … untuk selamanya.

Tentang pengarang :

Stieg Larsson meninggal tahun 2004, beberapa saat setelah mengirimkan naskah The Girl with The Dragon Tattoo dan dua sekuelnya.
The Girl who Played with Fire, novel kedua dari Blomkvist & Salander Trilogy, telah mencatat pelbagai prestasi gemilang :

  • International best-seller, terjual lebih dari 21 juta kopi di seluruh dunia.
  • #1 New York Times bestseller.
  • Telah difilmkan di Swedia.
  • Mendapatkan penghargaan:
    • Best Swedish Crime Novel Award (2006)

Seri Blomkvist-Salander:

  1. The Girl with The Dragon Tattoo
  2. The Girl who Played with Fire
  3. The Girl who Kicked The Hornet’s Nest

The Girl with The Dragon Tattoo

Novel pertama yang kuedit sendiri. Materinya banyak, sampai akhirnya aku belajar soal dunia hacking segala :))

Selama aku baca novel-novel detektif, baru kali ini aku ketemu sidekick super keren kaya Salander. You go, Girl!

Pengarang: Stieg Larsson
Penerjemah: Nurul Agustina
Penyunting: Nur Aini
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Tyo
Penerbit: Qanita

Harriet Vanger, putri salah satu keluarga paling berpengaruh di Swedia, hilang 40 tahun yang lalu.

Kasusnya tak terpecahkan. Tak ada mayat. Tak ada saksi. Tak ada bukti. Semua petunjuk mengarah ke jalan buntu.

Henrik Vanger, sang paman, yakin keponakannya itu dibunuh dan pelakuknya adalah salah seorang anggota keluarga Vanger. ia menyewa Mikael Blomkvist, seorang jurnalis investigatif sekaligus pemilik majalah Millenium, untuk menyelidiki kasus Harriet.

Dalam investigasinya, Blomkvist mendapat bantuan dari Lisbeth Salander, gadis punk asosial yang jenius dan memiliki memori fotografis dan keahlian hacking.

Mereka menemukan kaitan antara hilangnya Harriet dengan sejumlah kasus pembunuhan berantai yang tak terpecahkan. Berdua mereka berupaya menguak rahasia kelam keluarga Vanger yang hampir membuat nyawa Blomkvist hilang.

Tentang pengarang :
Stieg Larsson meninggal tahun 2004, hanya beberapa saat setelah mengirimkan naskah The Girl with the Dragon Tattoo dan dua sekuelnya. The Girl with the Dragon Tattoo, novel pertama dari Blomkvist & Salander trilogy, telah mencatat pelbagai prestasi gemilang:

  • International bestseller, terjual lebih dari 2 juta kopi di Eropa.
  • Memasuki cetakan ke-13 di AS.
  • Telah difilmkan di Swedia.
  • Mendapatkan penghargaan :
    • CWA (Duncan Lawrie International Dagger, Shortlist (2008)
    • NPR’s Top Crime and Mystery Novels (2008)
    • Galaxy British Book Award (2009, Shorlist)
    • Nominasi Best-Novel dan Best-First Novel pada Anthony Awards 2009

Seri Blomkvist-Salander:

  1. The Girl with The Dragon Tattoo
  2. The Girl who Played with Fire
  3. The Girl who Kicked The Hornet’s Nest

Dragon Bones

Pengarang: Lisa See
Penerjemah: A. Rahartati Bambang Haryo
Penyunting: Esti, Nur Aini, Indradya SP
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita

Seorang arkeolog Amerika ditemukan tewas mengambang di Sungai Yangzi. Di tubuhnya terdapat luka-luka mengerikan yang menunjukkan ciri-ciri ritual kuno. Detektif polisi Liu Hulan dan suaminya, David Stark, pengacara Amerika, ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuhan itu.

Penyelidikan membawa mereka ke proyek Bendungan Tiga Ngarai, yang direncanakan menjadi bendungan terbesar di dunia. Tak disangka-sangka, misteri pembunuhan itu mejerumuskan mereka dalam perburuan maut sebuah artefak yang diperebutkan banyak pihak. Pemerintah Cina, sekte fanatik terlarang, dan kolektor yang kejam mengingini pusaka itu. Apa sebenarnya rahasia artefak tersebut? Mengapa benda itu diyakini akan membuat pemiliknya menggenggam puncak kekuasaan di Cina?

Hulan dan David harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri ini, sebelum Bendungan Tiga Ngarai menenggelamkan semua petunjuk. Bukan hanya nyawa mereka dan nasib Cina yang menjadi taruhannya, tetapi juga perdamaian seluruh dunia.