Ulik-Ulik Windows 10 Home

Ini catatan dari apa-apa yang kulakukan saat mengulik Windows 10 Home yang baru kuinstal supaya terasa lebih ‘personal’, karena aku nggak demen banget dengan setting-an defaultnya.

Catatan Berhubung ada cara-cara yang melibatkan regedit, kalau ingin mengikuti catatan ini, jangan lupa bikin restore point dulu dan risiko harap tanggung sendiri! Jangan protes ke saya kalau komputer Anda rusak!

 

Membuat Local Account

Berhubung aku lebih suka komputerku tidak terhubung dengan akun Microsoft, aku mengikuti cara yang ada di artikel satu ini.

 

Menghapus Profile Picture

Caranya ada di sini, yang kurang lebih begini:

  1. Copy-paste%appdata%\Microsoft\Windows\AccountPictures” di address bar Explorer lalu tekan Enter.

lokasi profile picture

  1. Hapus foto atau gambar profile yang tidak diinginkan lagi.

 

Supaya hanya perlu menggoyang mouse tanpa perlu ketik-ketik password saat membangunkan komputer yang tertidur (sleep)

Aku mengikuti cara yang ada di sini, yang kurang lebih:

  1. Settings –> Accounts –> Sign-in options
  2. Pilih Never.

sleep sign-in-edit

 

Supaya tidak perlu ketak-ketik password saat menyalakan komputer

Ini beda dengan yang di atas. Aku mengikuti cara yang ada di artikel ini, yang kurang lebih:

  1. Buka Run dengan menekan Windows key + R, ketik netplwiz, klik OK.

netplwiz.JPG

  1. Kalau keluar kotak minta izin apa gitu, klik Yes.
  2. Buang centang dari kotak “Users must enter a user name and password to use this computer

Autologin-edit

 

Internet

Mengganti Nama Network

Saat melihat nama network yang dibuat otomatis oleh Windows 10 aku jadi sering bingung dan bertanya-tanya,“Hmm, Network 1 itu yang ke router atau yang ke Mi-Fi? Network 3 yang ke hape gitu? Eh, atau yang ke router, ya? Eh … waduuuh. Yang mana ini???” Karena itulah aku merasa perlu untuk menamai sendiri networknya. Untung nemu artikel satu ini.

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

  1. Buka Run dengan Windows key + R, ketik regedit, klik OK.

regedit

  1. Buka HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\NetworkList\Profiles
  2. Klik folder berangka panjang di bawah Profiles di jendela sebelah kiri (angkanya kemungkinan berbeda, jadi jangan pakai angka yang ada pada gambar di bawah sebagai acuan), lihat PofileName di jendela sebelah kanan. Pastikan itu network yang ingin diganti namanya.
  3. Klik PofileName dua kali. Ganti dengan nama yang diinginkan.

Nama Network-edit

Hasilnya kurang lebih seperti contoh ini. Kalau keliru, tinggal diulang.

Hasil nama network-edit

 

Supaya Internet Menjadi Metered Connection karena aku pakai kuota

Katanya Windows 10 Home akan melakukan update otomatis secara diam-diam (di belakang layar) begitu terhubung dengan internet. Waduh, kuota internetku bisa mendadak habis, dong! Aku kan pakai internet yang berbasis kuota, bukan yang unlimited. Apa? Pindah ke internet yang pakai kabel itu? Hehehe … In**Ho** aja belum sampai ke area ini.

Untunglah aku menemukan artikel yang, setelah kuikuti menjadikan Windowsku tidak semena-mena melakukan update. Lihat hasilnya! Dia nunggu izin! Gitu dong, Win. Kalau mau update tuh ya minta izin dulu!

Metered connection-edit

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

Ini dia artikelnya. Sengaja disimpan di belakang karena pakai regedit.

Kalau mengikuti langkah di artikel tersebut, update Windowsnya jadi manual, ya. Mungkin jadi agak repot, tapi setidaknya waktu updatenya lebih bisa dikontrol sesuka hati kita, bukan sesuka hati Windows. Hehehe 🙂

 

Windows Explorer

Mengubah Lokasi File-File

Ini kulakukan karena aku menyimpan data-data di D, bukan di C.

  1. Settings –> System –> Storage
  2. Lihat Save Location
  3. Ubah sesuka hati.
    Secara default semua aplikasi, dokumen, musik, foto, dan video disimpan di C (This PC), tapi aku mengubahnya menjadi seperti pada gambar. Documents kubiarkan di C supaya file-file save-an game tidak tercampur dengan file-file pekerjaan dan file-file pribadi yang kusimpan rapi di D.

Lokasi default dokumen dan lainnya-edit

 

Menyembunyikan Folder Documents, Music, Pictures, Videos di This PC

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

Ini kulakukan karena aku nggak suka melihatnya dobel-dobel. Di This PC ada, eh … di Libraries ada lagi. Buat apa?

Kedua, karena folder-folder di This PC itu nggak bisa diatur isinya, beda dengan yang ada di Libraries. Kalau yang di Libraries, aku bisa ngatur folder-folder mana saja yang ingin kutampilkan di sana.Coba lihat gambar terakhir, di situ terlihat Documents Libraries terdiri atas dua folder, satu di C dan satu di D.

Nggak ngerti? Yo wes, tak apa. Ini mah selera pribadi 😀

Caranya menyembunyikannya ada di artikel ini atau artikel yang merinci satu per satu ini.

 

Menaikkan Posisi Libraries ke atas This PC supaya mirip Win 7

Kenapa? Karena sudah nyaman dengan tampilan Windows Explorernya Win 7, sih 😛
Aku mengikuti langkah-langkah di artikel ini, meski ada sedikit perbedaan.

Awas! Cara ini menggunakan regedit. Hati-hati saat mengutak-atik regedit, karena dapat menyebabkan kerusakan komputer! Bikin restore point dulu! Risiko ditanggung sendiri!

  1. Buka Run dengan  Windows key + R, ketik regedit, klik OK.
  2. Buka HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{031E4825-7B94-4dc3-B131-E946B44C8DD5}
  3. Klik SortOrderIndex dua kali, masukkan angka 44 (hexadecimal) (beda dengan yang di artikel), klik OK.

Libraries-edit

  1. Hasilnya baru terlihat setelah Windows Explorer di-restart.
    Cara merestart Windows Explorer: klik kanan pada taskbar lalu klik Task Manager, di-tab Processes klik Windows Explorer supaya tersorot, klik Restart.

restart windows explorer-edit

 

Hasil setelah menyembunyikan folder Documents, Pictures, dll serta memindahkan Libraries ke atas This PC. Jadi mirip Win 7, kan?

Explorer-Lib-Doc-edit2

Sekian catatannya. Rasanya banyak sih yang kulakukan, tapi kurasa ini sudah mencakup semua yang kurasa penting. Yah, namanya juga selera pribadi 😀

 

 

Iklan

Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Di Wordfast, kita bisa membuat kamus sendiri. Tinggal memasukkan istilah asli serta padanan/istilah Indonesianya, maka program tersebut akan mengingat dan otomatis mengurutkannya. Miriplah dengan membuat kamus di excel.

Begini contoh kamus buatanku untuk seri Lorien Legacies:020112_1352_SedikitGamb5.jpg

Kelebihannya dibandingkan membuat kamus sendiri di excel adalah Wordfast akan memberi tanda saat menemukan kembali istilah (yang sudah kita simpan ke dalam kamus) di kotak kalimat sumber. Nah, ini buatku membantu sekali karena aku tak perlu mengingat-ingat apakah aku pernah menerjemahkan istilah itu dan padanan apa yang kupakai.

Contohnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Di kotak kalimat sumber terlihat ada kata yang di-highlight biru, Legacy dan Chest. Tanda highlight tersebut muncul karena dua kata tadi sudah tersimpan dalam kamus Wordfast yang kubuat.

020112_1352_SedikitGamb6.jpg

Kok cuma di-highligt? Kok tidak otomatis keluar?
Ya… panjang kalau diterangkan. Itu berhubungan dengan urutan kata. Kalau otomatis keluar, nanti berantakan. Tapi mengeluarkan padanannya mudah, kok.  Kalau melihat gambar di atas tadi, aku cukup mengetik terjemahan seperti ini:

Karena Henri berkata bahwa sistem tata surya itu bukanlah bagian dari L lalu tekan [TAB].

Kenapa L? Untuk menunjuk ke kata Legacy yang diawali huruf ‘L’ di kotak sumber. Istilah padanannya, yaitu “Pusaka” akan langsung muncul di kotak terjemahan tanpa perlu diketik lagi.

Setelah itu terjemahan dilanjutkan dan saat kata Chest akan diterjemahkan, kita tinggal ketik ‘C’ diikuti [TAB] maka padanannya akan langsung muncul. Nah, apa coba padanannya?

Kalau kata yang tidak diterjemahkan gimana? Misalnya nama orang?

Ada dua cara. Yang pertama, dimasukkan ke dalam kamus buatan sendiri seperti di atas.
Yang kedua, pakai cara berikut:
Misalnya seperti contoh di bawah. Di sana terlihat ada kata Garde (yang tidak kumasukkan ke dalam kamus).

Aku menerjemahkan seperti ini dulu:

Awalnya, aku dikenal sebagai Nomor Tujuh, salah satu dari sembilan G lalu tekan [TAB].

Huruf ‘G’ itu akan langsung berubah jadi Garde. Jadi fungsinya mirip-mirip copy-paste. Kalau ada beberapa kata berawalan G di kalimat sumber, ya tinggal tekan [TAB] beberapa kali sampai kata yang diinginkan dikelilingi kotak merah seperti pada gambar.

020112_1352_SedikitGamb7.jpg

Kekurangan cara ini: Kalau dari aslinya sudah typo, dijamin terjemahannya ikut typo. Namanya juga copy-paste. Jadi … untuk yang satu ini mungkin lebih enak pakai autocorrect.

Untuk menerjemahkan novel, kurasa yang paling membantu adalah kamus ini. Tentu saja penggunaan kamus ini tergantung pada si penerjemah sendiri. Misalnya dalam seri Lorien Legacies, “Legacy” yang merujuk kepada kemampuan para Loric akan selalu dipadankan dengan istilah “Pusaka” tapi “legacy” (tidak pakai kapital) yang bukan merujuk pada kekuatan Loric tidak akan ikut-ikutan jadi “pusaka” karena bisa saja diganti dengan kata “warisan”.

Baca juga:
Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)
Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1

Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)

Di posting sebelumnya, aku sudah cerita tentang mengapa aku mencoba memakai Wordfast Classic. Nah, sekarang … seperti apa sih rasanya? Gambarannya?

Sebelumnya, kalau teks berupa hardcopy, program ini jelas tidak berguna. Program ini baru bisa dipakai kalau kita punya softcopy naskah yang bisa dibuka dengan Word. Kalau pdf atau epub gimana? Di-convert dulu supaya bisa dibuka di Word.

Jadi, sudah punya softcopy yang bisa dibuka di Word? Oke. Anggap berikut ini naskah yang akan diterjemahkan.

020112_1352_SedikitGamb1.png

Saat program Wordfast yang sudah diinstal dijalankan, program tersebut akan memenggal per kalimat (sudah defaultnya begitu). Bisa juga diatur supaya program tersebut memenggal per paragraf, tapi itu tak akan dibahas di sini.
Saat dipenggal, akan muncul dua kotak. Kotak atas yang berwarna biru muda itu adalah kalimat sumber sedangkan kotak di bawahnya yang kosong dan berwarna abu-abu adalah tempat kita mengetik terjemahannya.

020112_1352_SedikitGamb2.jpg Pada gambar di atas, kalimat yang harus diterjemahkan adalah
My name is Marina, as of the sea, but I wasn’t called that until much later.”
Kita tinggal mengetikkan terjemahan kita di kotak bawahnya yang berwarna abu-abu.

Setelah kalimat tersebut diterjemahkan, tinggal tekan [Alt] + ↓, maka program akan memenggal kalimat berikutnya (In the beginning I was known merely as Seven, one of the …):

020112_1352_SedikitGamb3.jpg

Karena program ini memenggal kalimat satu per satu, tidak bakal ada kalimat yang terlewat diterjemahkan.

Ada lagi enaknya yang kurasakan. Tapi ini mungkin subjektif. Aku tuh mudah terintimidasi volume. Misalnya saat bertemu paragraf panjang seperti ular naga, wah … rasanya  pingin jambak-jambak rambut T__T.
Dengan menggunakan Wordfast, aku tak perlu melihat paragraf raksasa itu. Yang kulihat cuma satu kalimat yang mau diterjemahkan. Dengan memotong-motong per kalimat begitu, tau-tau aja satu paragraf panjang itu sudah terbantai tanpa perlu jambak-jambak rambut.

TM dan TU, apa itu?

Di gambar di bawah, terlihat ada tiga TU (Translation Unit) karena aku sudah menerjemahkan tiga kalimat itu dan semua TU tersebut disimpan dalam file TM (Translation Memory).

020112_1352_SedikitGamb4.jpg

Untuk Wordfast versi trial yang gratis, TM dibatasi hanya bisa diisi dengan 500 TU saja. Kalau menggalnya per kalimat seperti aku ya berarti TU-nya sekitar 500 kalimat. Cukuplah untuk mengerjakan 1 bab panjang atau beberapa bab pendek. Kalau TU-nya sudah 500, program bakal mandek. Tapi itu mudah diatasi dengan membuat file TM baru.

TM ini berguna saat kita menemukan kalimat yang sama persis. Kira-kira seperti punya teman dengan ingatan yang luar biasa bagus yang bakal langsung ngasi tau, “Kalimat itu kan sudah pernah kamu terjemahkan jadi ‘blablabla’.” atau “Kamu pernah tuh nerjemahin kalimat yang 80% mirip ini, waktu itu kamu nerjemahinnya ‘bliblibli’.” Kalimat terjemahan itu (‘blablabla’ dan ‘bliblibli’) akan langsung dimunculkan di kotak terjemahan sehingga kita tak perlu repot-repot mengetik lagi.

Catatan: Wordfast ini hanya alat bantu menerjemahkan. Kualitas terjemahan tetap ditentukan oleh penerjemah itu sendiri. Dalam penerjemahan novel, penerjemah perlu menggunakan diksi yang bervariasi, jangan sampai semua “she said” dan “he said” diterjemahkan jadi “katanya” tanpa berusaha membuat variasi dengan kata lain seperti “ujarnya”, atau “jawabnya”, atau “ia bertutur”, “ia menjelaskan”, “renungnya”, “bantahnya”, “ia berkelit”, atau lainnya yang tentunya tetap harus sesuai dengan konteks.

Baca juga:
Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)
Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1

Alat Bantu Penerjemahan? (WF #1)

Saat menerjemahkan The Girl who Kicked The Hornets’ Nest, aku berpikir seharusnya ada cara yang jauuuh lebih mudah buat menerjemahkan. Mungkinkah ada suatu program yang dapat lebih memudahkanku mengerjakan pekerjaan hobi ini? Kenapa aku berpikir begitu? Karena saat menerjemahkan novel bagus satu itu, aku menghadapi masalah-masalah seperti:

  • Tidak sengaja melewatkan satu atau dua kalimat saat menerjemahkan. Kalimat 1, 2, 3, tiba-tiba loncat ke kalimat 5. Versi parahnya: terlewat satu paragraf. Pantesan aja nggak nyambuuung T__T
  • Menghadapi paragraf yang panjang luar biasa sampai-sampai ingin jambak-jambak rambut.
  • Bertemu kalimat panjang atau kalimat majemuk bertingkat-tingkat yang bikin ingin jedot-jedotin kepala ke meja karena ribet mesti cek ulang lagi, lagi, dan lagi demi memastikan maknanya diterjemahkan dengan benar.
  • Lupa padanan istilah yang digunakan saking banyaknya. Memang ini bisa diatasi dengan membuat daftar istilah di excel karena bisa diurutkan sesuai abjad dan untuk mencarinya tinggal search saja (kalau cuma dicatat di buku, tetap saja nyarinya makan waktu karena tidak bisa diurutkan sesuai abjad dan tidak bisa pakai search). Tapi excel yang memudahkan itu pun buatku masih kurang karena flow kerja terganggu. Lagi enak-enak menerjemahkan, ketemu istilah, bingung, pindah dulu ke excel, search, balik lagi, eh udah gitu lupa tadi sedang menerjemahkan kalimat yang mana.
  • Lupa padanan istilah sehingga harus nyari lagi dari awal. Setelah ketemu, baru sadar istilah itu pernah dipakai entah di berapa belas bab yang lalu. Ngabisin waktu! T__T
  • Rujit dengan penulisan nama! Nama yang pakai abjad é atau á atau yang tulisannya tidak biasa. Blomkvist, misalnya, atau nama jalan-jalan di Swedia itu. Widiw. Sekadar informasi: Waktu itu aku belum kenal dengan yang namanya autocorrect.

Lalu Tuhan yang mendengar keluh-kesahku menunjukkan jalan melalui temanku yang penerjemah juga, tapi dia menerjemahkan dokumen bukan novel. Masalah kami ya mirip-mirip beda dan beda-beda mirip. Dari temanku ini aku tau bahwa ternyata ada  yang namanya CAT-Tools.

Aku: Apa tuh?

Temanku: CAT-Tools atau Computer Aided Translation Tools alias alat bantu penerjemah.

A: Eee … gunanya?

T: Ya untuk membantu menerjemahkan. Ini bukan Machine Translation kayak Google Translate atau Transtool gitu.

Singkat cerita, setelah temanku ini menjelaskan cukup panjang padaku yang terbingung-bingung dan terbengong-bengong tapi tetap menyimak dengan saksama karena dia menjelaskan dengan semangat ’45, akhirnya aku memutuskan buat mencoba CAT-Tools karena temanku ini mengucapkan kalimat sakti: “Kalau pakai ini, nggak bakal ada yang namanya kalimat kelewat”

A: Kayaknya asyik juga. Tapi mahal, ya? Susah?

T: Ada yang gratisan. Eh, bukan gratisan sih sebenarnya, tapi versi trial. Kamu bisa coba pake buat ngerasain. TM-nya terbatas … tapi lumayanlah ada 500 TU. Namanya Wordfast. Pake yang Classic aja. Kalau buat belajar, lebih gampang pakai itu.

A: TM? TU?

T: … cukuplah untuk nerjemahin satu atau dua bab. Kalau sudah habis TU-nya bisa bikin TM baru.

Maka, meski terbingung-bingung dengan segala istilah yang disebutkan temanku itu, aku pun mencoba pakai Wordfast Classic gratisan. Ngambilnya langsung dari wordfast. Belajar cara instal dan settingnya di sini. Novel pertama yang diterjemahkan ya jelas si The Girl 3 itu.

Setelah satu tahun memakai Wordfast Classic gratisan yang membuatku merasa tidak leluasa, akhirnya aku memutuskan untuk beli lisensinya dengan bantuan Mbak Dina Begum yang juga menggunakan Wordfast.

Edited: Posting ini dulu merupakan posting yang panjang, karena itu kupotong jadi tiga bagian.

Baca juga:
Mencicipi Rasa Wordfast Classic (WF #2)
Kamus di Wordfast Classic (WF #3)

Tautan luar:
Wordfast
Si Katul dalam penerjemahan novel
Panduan Singkat Wordfast Classic – Bagian 1

Converter

Aku bukan penerjemah yang suka menerjemahkan dari hardcopy. Pegel leher soalnya. Tengok naskah, balik ke laptop, tengok lagi naskah, balik ke laptop. Haduuuh.
Menerjemahkan dengan softcopy  berformat .pdf atau format lain yang bukan Word ya tetap saja kurang nyaman. Itu kan berarti si layar harus dibelah dua, bisa atas-bawah atau bisa juga kiri-kanan. Baca atas (atau kiri) ketik di bawah (atau kanan). “Eh … tadi sampai mana, ya?” Apalagi aku sering salah scroll. Maksud hati menggulir yang di bawah, eh … yang bergerak yang di atas. Nah, lho.

Makanya aku biasa merepotkan diri untuk mencari file yang bisa dibuka di Word. Supaya apa? Supaya enak nerjemahinnya. Paling tidak kan aku cukup membuka file yang mau diterjemahkan lalu menerjemahkan di bawah paragraf yang satu, baru lanjut ke paragraf lain. Novel A Garland for Girls itu kuterjemahkan dengan cara ini. Penerbit mengirimkan file soft copy-nya, kubuka di Word, dibagi-bagi dulu per bab. Baru mulai menerjemahkan. Paragraf satu kuterjemahkan di bawahnya. Setelah selesai, paragraf asli dihapus. Lalu lanjut ke paragraf dua, dan seterusnya.

Tapi … tapi … tapi kan naskah softcopy tidak selalu ramah Word. Syukur-syukur kalau penerbit memberi  format .doc atau .rtf atau .txt. Tapi kan tak selalu begitu. Kalau dapatnya .pdf atau .lit atau .pub. atau lainnya gimana?

Yah … setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan dua converter yang cukup untuk kebutuhanku.

1. Nitro PDF Professional.
Fungsinya untuk mengubah file .pdf menjadi file Word. Bisa juga dimanfaatkan untuk mengubah ke format lain (excel, misalnya). Menurutku, converter ini lebih rapi dibandingkan Adobe karena ada pilihan untuk membuang gambar, dan sebagainya.

2. Calibre – E-book management.
Program ini juga bisa digunakan untuk mengubah berbagai format e-book (.lit, .pdb, .epub, .lrf, dan masih banyak lagi) ke format lain, misalnya .rtf, .txt, dan lainnya. Sayangnya tidak bisa digunakan untuk .pdf.